Mimpi Israel Menggusur Al-Aqsa dan Membangun Kuil Ketiga

Israel sedikit pun tidak mengendurkan cengkeramannya di Masjidil Aqsa, Yerusalem Timur, kendati menuai kecaman dunia. Ada agenda panjang Israel di tempat suci itu, sebuah visi keagamaan yang harus dipenuhi oleh kaum Yahudi Ortodoks.
Sejak mencaplok Yerusalem Timur pada 1967, Israel menurunkan tentara dan polisi di Masjidil Aqsa, berbagi keamanan dengan Yordania dalam sebuah status quo. Namun belakangan, warga Palestina merasa status quo itu dilanggar Israel. Salah satunya dengan berdatangannya warga Yahudi untuk berdoa di Masjidil Aqsa, tindakan terlarang berdasarkan perjanjian antar negara.
Bagi Israel, Yerusalem adalah ibu kota mereka. Hal yang sama bagi Palestina: Yerusalem Timur akan jadi ibukota mereka jika kemerdekaan telah diproklamirkan.
Baiklah, Israel telah menguasai Yerusalem, buktinya Palestina tidak berkutik. Namun ada satu agenda Israel lainnya yang berpotensi memicu perang besar. Israel paham betul bahayanya, sehingga setiap bentuk perwujudannya tidak secara terang-terangan didukung pemerintah, yaitu pembangunan Kuil Ketiga Yahudi, tepat di atas Masjidil Aqsa.
Umat Yahudi percaya Masjidil Aqsa -kiblat pertama umat Islam dan tempat Nabi Muhammad Isra Mi'raj- adalah tempat dua kuil suci mereka pernah berdiri.
Kuil pertama umat Yahudi diyakini dibangun oleh Nabi Sulaiman, berisi Tabut Perjanjian (Ark of Covenant) yang memuat 10 perintah Tuhan, yang dihancurkan pada abad ke-6 oleh suku Babilonia, ditandai dengan pengusiran Yahudi dari Yerusalem. Kuil kedua dibangun di lokasi yang sama oleh Koresh yang Agung dari Persia, lalu hancur dalam pendudukan Romawi tahun 70.
Tembok barat di kompleks Masjidil Alqsa diyakini adalah sisa terakhir dari kuil kedua. Di tempat ini, umat Yahudi meratapi kehancuran kuil mereka, maka muncullah istilah "tembok ratapan". Dalam sejarah umat Islam, tembok ini digunakan Nabi Muhammad mengikat Buroq, hewan ajaib yang membawa terbang Rasulullah dari Mekah ke Palestina.
Ramalan dalam Taurat menyatakan bahwa Bani Israel akan kembali ke Tanah yang Dijanjikan dan Kuil akan dibangun. Kembalinya warga Yahudi di seluruh dunia ke Israel, ke Yerusalem, yang mereka sebut Tanah yang Dijanjikan, telah terwujud. Tinggal pembangunan Kuil Ketiga.
Keberadaan Kuil Ketiga ini dianggap penting bagi umat Yahudi. Kuil ini akan menjadi kiblat umat Yahudi dalam menyembah Tuhan mereka, melakukan penyembelihan untuk pengorbanan dan menyimpan Tabut Perjanjian yang entah ada di mana. Ibadah di Sinanog dirasa tidak cukup jika belum ada kuil ini.
Namun ada permasalahan besar. Lokasi pembangunan Kuil Ketiga ada di kompleks Masjidil Aqsa atau yang disebut umat Yahudi sebagai Kuil Gunung (Temple Gunung) tepatnya di atas Kubah Shakhrah atau Dome of Rock, bangunan berkubah emas. Di dalam Kubah Shakrah terdapat batu yang diyakini tempat Nabi Muhammad bertolak ke surga untuk menerima perintah salat dalam peristiwa Isra Mi'raj.

Menggusur Al-Aqsa
Pemerintah Israel mencoba menghindari wacana soal pembangunan Kuil Ketiga karena berpotensi perang agama. Para tokoh Yahudi moderat juga melarang umat Yahudi masuk ke Masjidil Aqsa karena menurut mereka terlalu suci untuk dilewati manusia. Sebagian umat Yahudi beranggapan Kuil Ketiga akan dibangun atas perintah Imam Mahdi di penghujung dunia.
Namun kelompok-kelompok Yahudi Ortodoks dan sayap kanan ekstrem mengatakan Kuil Ketiga harus tetap dan segera dibangun atas perintah kitab suci. Mereka kemudian menggulirkan upaya menggusur Masjidil Aqsa untuk membangun Kuil Ketiga. Menggusur Al-Aqsa adalah satu-satunya cara untuk mendirikan Kuil Ketiga di atasnya.
Dalam sebuah kasus yang ekstrem, Yehuda Etzion, tokoh agama Yahudi Israel berencana meledakkan Kubah Shakrah agar pondasi Kuil Ketiga bisa berdiri. Akibat rencana ini, tahun 1984 Etzion dipenjara atas tuduhan terorisme.
Beberapa organisasi yang misi utamanya mendirikan kuil ketiga juga berdiri, seperti Temple Mount Faithful dan Temple Institute. Pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka berpegang pada status quo, tapi nyatanya organisasi Temple Mount Faithful pendanaannya justru datang dari anggota pemerintahan, seperti yang dikutip dalam sebuah artikel al-Jazeera.
Tahun 1990, Temple Mount Faithful menyatakan akan meletakkan batu pertama untuk pembangunan Kuil Ketiga di Kubah Sakhrah. Pernyataan ini memicu kerusuhan dan pembunuhan 20 warga Palestina oleh polisi Israel.

Israel juga mulai kendur dalam penerapan larang beribadah umat Yahudi di Masjidil Aqsa. Setiap harinya, ada ratusan warga Yahudi yang memasukinya, beberapa tertangkap basah tengah beribadah, pelanggaran perjanjian status quo.
Provokasi juga terus dilakukan Israel.
Tahun 2000, Ariel Sharon yang saat itu masih politisi memasuki kompleks Masjidil Aqsa dengan kawalan 1.000 orang polisi. Dia terang-terangan menantang perjanjian pembagian Yerusalem Timur yang disepakati oleh Ehud Barak dan Yasser Arafat. Ariel Sharon memicu perlawanan warga Palestina yang dikenal dengan nama Intifada kedua, menewaskan lebih dari 3.000 warga Palestina dan 1.000 warga Israel.
Mei lalu, kabinet Israel melakukan rapat mingguan di terowongan bawah tanah Masjidil Aqsa, pada peringatan 50 tahun pendudukan Israel di Yerusalem Timur. Tindakan ini memicu kemarahan warga Palestina.
Persiapan Pembangunan Kuil Ketiga
Temple Institute bahkan telah mempersiapkan pembangunan Kuil Ketiga. Mereka telah membuat ulang benda-benda bersejarah yang sebelumnya ada di Kuil Pertama dan Kedua, di antaranya adalah puluhan guci dan cendawan suci berbahan emas.
Organisasi yang didirikan oleh Rabbi Yisrael Ariel pada 1987 ini telah mempersiapkan semuanya selain artefak-artefak. Dikutip dari tulisan di Haaretz tahun 2012, Temple Institute telah membuat pakaian untuk pendeta, instrumen musik, lampu lilin gantung, bahkan altar untuk Kuil Ketiga.
Bentuk bangunannya juga sudah diperhitungkan, lebih besar ketimbang Kuil Pertama dan Ketiga.
Temple Institute juga telah mendirikan sekolah untuk membentuk para pendeta yang akan bertugas di kuil itu. "Ketika Kuil Ketiga dibuka, maka butuh pendeta yang tahu apa yang mereka kerjakan," ujar pernyataan kuil pada artikel Haaretz.
Menurut survei gerakan Kuil Ketiga yang dikutip Haaretz, hanya 17 persen Yahudi Israel yang ingin Kuil Ketiga dibangun. Tapi 43 persen dari warga sekuler dan 92 persen dari warga relijius ingin agar bisa berdoa di dalam kompleks Masjidil Aqsa.
Pemerintah Israel secara umum memang menafikan rencana Kuil Ketiga ini. Namun secara pribadi, pejabat Israel mendukungnya. Salah satunya adalah Menteri Perumahan dan Konstruksi Israel Uri Ariel, seperti yang dikutip Press TV.
"Masjid Al-Aqsa berdiri di atas tempat kuil, walau kuil lebih suci dari itu. Masjidil Aqsa hanya tempat ketiga paling suci umat Islam. Sekarang Israel telah menjadi negara Yahudi berdaulat, keinginan membangun kuil semakin besar," ujar Ariel.

