Modal PT Jakpro Dipangkas Rp 400 M karena Akan Bangun Hotel di TIM

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Desain baru Taman Ismail Marzuki. Foto: Youtube/@PEMPROV DKI JAKARTA
zoom-in-whitePerbesar
Desain baru Taman Ismail Marzuki. Foto: Youtube/@PEMPROV DKI JAKARTA

DPRD DKI melanjutkan rapat badan anggaran (banggar) untuk mencocokkan besaran pengeluaran dengan jumlah Kebijakan Umum APBD dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUAPPAS)  yang sudah disepakati sebesar Rp 87,9 triliun dalam APBD DKI tahun 2020.

Dalam rapat itu, Ketua Banggar DPRD Prasetyo Edi Marsudi mengusulkan untuk memotong Penyertaan Modal Daerah (PMD) untuk PT Jakarta Propertindo sebesar Rp 400 miliar dari Rp 3,1 triliun menjadi Rp 2,7 triliun.

Awalnya, Direktur Utama PT Jakpro Dwi Wahyu Daryoto mengatakan terdapat rencana pembangunan hotel tingkat enam yang terdiri dari ruang galeri hingga dokumentasi sejarah di Taman Ismail Marzuki (TIM). Menurutnya, apabila anggaran dipotong sangat berpengaruh terhadap pengerjaan proyek.

"Saya pikir enggak begitu besar Rp 400 miliar, mungkin tidak begitu besar. Tapi kalau sampai dipotong Rp 400 (miliar) ini membawa dampak untuk pelaksanaan proyek," kata Dwi di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Rabu (27/11).

"Kalau wisma di atasnya galeri pusat dokumentasi sejarah yang sekarang disebut sebagai hotel itu enggak sampai Rp 50 miliar karena pondasinya sudah memakai pondasi dari galeri sendiri," tambah dia.

Rapat Banggar RAPBD di DPRD DKI Jakarta, Selasa (26/11). Foto: Ricky Febrian/kumparan

Mendengar itu, Wakil Ketua DPRD DKI M Taufik menyoroti rencana pembangunan hotel dalam revitalisasi TIM tersebut. Ia menilai rencana pembangunan kurang disukai masyarakat.

"Mau namanya apa terserah pokoknya ada tempat nginep namanya wisma namanya apa saya kira itu kurang menarik bagi masyarakat. Kalau itu kita hilangkan, sudah enggak usah ada hotel di situ, Pak," kata dia.

Pernyataan Taufik didukung oleh sejumlah anggota dewan lainnya. Salah satunya, anggota DPRD Fraksi PDIP Gembong Warsono yang menganggap TIM perlu dilestarikan sebagai salah satu budaya yang perlu diwariskan ke anak cucu.

"Kita harus kembalikan marwah TIM sebagai pusat budaya maka hal-hal yang berbau bisnis kita singkirkan kalau di situ ada hotel ya mulai sekarang kita potong tidak ada pembangunan hotel atau wisma dan sebagainya," ucapnya.

Setelah perdebatan cukup panjang, Prasetyo akhirnya menanyakan kepada seluruh anggota dewan apakah menyetujui PMD PT Jakpro dipotong sebesar Rp 400 miliar.

"Saya putuskan Jakpro ya, mungkin saya kurang puas, saya juga bukan kali saya putuskan sebagai hakim sesuai asas bahwa Jakpro tetap putusan daripada Rp 2,7 miliar setuju?" kata dia.

"Setuju," ucap seluruh anggota dewan, setelah itu Prasetyo mengetok palu persetujuan.