Momen Duka Istri Abe dan PM Jepang Kala Melepas Kepergian Shinzo Abe

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Shinzo Abe dan Akie Abe Foto: Reuters/Lehtikuva
zoom-in-whitePerbesar
Shinzo Abe dan Akie Abe Foto: Reuters/Lehtikuva

Warga Jepang melepas kepergian mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, dalam prosesi pemakaman yang digelar pada Selasa (12/7/2022). Ini merupakan momen yang berat bagi orang-orang terdekat Abe, seperti istrinya, Akie, dan Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida.

Iring-iringan prosesi pemakaman Abe melintas melalui jantung politik Tokyo, Nagatacho.

Diberitakan Reuters, ratusan warga berjajar di sepanjang trotoar untuk mengiringi perjalanan Abe ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka mengenakan baju serba hitam sambil membawa bunga dan bendera pita hitam untuk mengucapkan selamat tinggal.

Ada yang bertepuk tangan, bersorak, atau melambaikan tangan saat mobil yang membawa jenazah Abe melintas di dekat mereka.

Sambil menggenggam rosario Buddha, Kishida menundukkan kepalanya ketika mobil itu melewatinya dengan laju perlahan. Di kursi depan mobil jenazah, Akie membalas dengan membungkuk hormat.

Shinzo dan Akie Abe tiba di Amerika Serikat Foto: Joshua Roberts/REUTERS

Akie dan Abe telah menikah selama selama 35 tahun sejak 1987. Keduanya tak memiliki anak bahkan setelah menjalani sejumlah perawatan kesuburan di awal pernikahan mereka.

Disadur dari CNN, Akie mengikuti jalan yang telah dilalui oleh banyak istri lainnya ketika menikah. Dia melepaskan pekerjaannya di biro iklan terbesar negara itu.

Tetapi, selama lebih dari tiga dekade pernikahan, Akie justru terbukti jauh dari stereotip sebagai istri politik konvensional. Dia menjadi wajah baru bagi ibu negara Jepang. Akie melewati sembilan tahun sebagai sosok yang aktif dan terbuka dengan pandangan progresifnya.

Orang-orang menunggu berakhirnya pemakaman mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, di luar Kuil Zojoji di Tokyo, Jepang, Selasa (12/7/2022). Foto: Issei Kato/REUTERS

Setelah suaminya mengundurkan diri pada Desember 2020, Akie memudar dari pandangan publik. Sekarang, dia kembali menjadi sorotan saat Jepang berduka atas kematian suaminya.

Pada Jumat (8/7/2022), Akie menempuh perjalanan kereta selama berjam-jam untuk bergegas ke sisi suaminya di rumah sakit di Nara setelah mendapatkan kabar Abe telah ditembak saat berkampanye.

Keesokan harinya, dia membawa jasad Abe kembali ke Tokyo menggunakan mobil. Pada Senin (11/7/2022), Akie berkabung bersama kerabat dan tamu pada upacara pribadi di Kuil Zojo-ji.

Ketika melalui semua itu, Akie tampak tetap tenang saat tampil di depan umum meski telah kehilangan suami tercintanya.

Akie Abe, istri mendiang mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang tertembak, meninggalkan Rumah Sakit Universitas Kedokteran Nara dengan sebuah kendaraan, di Kashihara, prefektur Nara, Jepang, Jumat (9/7/2022). Foto: Issei Kato/REUTERS

Dalam kerumunan pelayat di Nagatacho, terlihat juga sosok Kishida berdiri di antara rombongan kabinetnya di depan gedung parlemen.

Shinzo Abe adalah mentor Kishida. Surat kabar Nikkei Asia bahkan menyebut Kishida sebagai pencapaian terbesar Abe.

Sebelum menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang, Kishida sempat menjadi Menteri Luar Negeri Jepang dalam kabinet Abe selama lima tahun.

Pekan lalu, Kishida mengecam penembakan Abe. Dia mengatakan, insiden ini adalah tindakan yang jahat dan barbar yang tidak dapat ditoleransi.

Mantan Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida berbicara setelah diumumkan sebagai pemenang pemilihan pimpinan Partai Demokrat Liberal di Tokyo, Jepang, Rabu (29/9). Foto: Carl Court/Pool via REUTERS

"[Serangan ini] adalah tindakan kebrutalan yang terjadi selama pemilihan, dasar dari demokrasi kita, dan benar-benar tidak dapat dimaafkan," tegasnya.

Abe ditembak ketika sedang berpidato dalam kampanye untuk kandidat Partai Demokrat Liberal (LDP) di dekat Stasiun Yamatosaidaiji di Kota Nara.

Dia mengalami pendarahan hebat dan meninggal dunia di Nara Medical University Hospital pada sore harinya.

Penulis: Airin Sukono.