Momen Menegangkan saat Gunung Marapi di Sumbar Meletus

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Gunung Merapi. (Foto: Instagram @indahpeermatasariii)
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Merapi. (Foto: Instagram @indahpeermatasariii)

Saat Gunung Marapi di Sumatera Barat meletus pertama kali sekitar pukul 10.01 WIB, Minggu (4/6), ada beberapa pendaki yang masih berada di atas gunung. Kantor SAR Padang dalam laporan awal mencatat 10 di antaranya tersesat, dan lainnya berhasil turun.

Mereka yang berhasil menyelamatkan diri dari erupsi itu lalu membagikan foto dan video saat Gunung yang berada di Kabupaten Agam itu mengeluarkan vulkanik. Salah satunya dibagikan Indah Permata Sari.

Erupsi gunung Marapi. (Foto: Dok. BNPB)
zoom-in-whitePerbesar
Erupsi gunung Marapi. (Foto: Dok. BNPB)

"Subhanallah allahuakbar laillahailallah. Allah masih sayang, sungguh pengalaman yang luar biasa melihat Gunung Merapi Sumbar batuk di dekat camp," ucap Indah dalam Instagramnya @indahpeermatasariii dikutip Selasa (6/6).

"Pengalaman pertama naik gunung disuguhkan Merapi yang batuk. Terima kasih ya Allah, pengalaman yang luar biasa tapi jangan kedua kalinya," imbuhnya. Indah memposting satu video dan 2 foto berikut ini.

instagram embed

Lewat kolom komentar, Indah yang mendaki bersama beberapa temannya, menyebut Gunung Marapi batuk (erupsi) tiga kali saat dia masih berada di atas, dan sekali saat turun. Beberapa barang terpaksa ditinggal agar mereka segera turun.

"Kuat bunyinya, kayak pesawat gitu baru ledakan. Rombongan saya selamat, tapi yang satu lagi kemarin tinggal satu yang belum ditemukan," ucapnya.

Selain Indah, ada Randy yang juga tengah berada di Gunung Merapi saat erupsi itu terjadi. Dia sempat mengabadikan erupsi dari jarak dekat sebelum akhirnya buru-buru menuruni gunung.

"Marapi batuak (batuk) 4 kali. Kami rombongan dari Bukit Tinggi beranggotakan 2 orang, dan teman yang dari Padang Panjang 2 orang," ucap Randy lewat Instagramnya @randytangkank27 dipublikasikan Minggu (4/6).

"Yang masih terjebak 13 orang dari Pekanbaru, sekarang dalam proses pencarian. Mudah-mudah mereka selamat dan cepat ditemukan," imbuhnya.

instagram embed

Sementara itu, di antara pendaki yang hilang saat terjadi erupsi itu akhirnya berhasil ditemukan tim pencari gabungan hari ini. Yaitu atas nama Yandri, pendaki terakhir asal Provinsi Riau. Dia ditemukan dalam kondisi masih hidup di Gunung Marapi.

"Benar, Yandri ditemukan dan masih hidup," kata Dwi Puspita, seorang pendaki asal Kota Pekanbaru yang sudah ditemukan terlebih dahulu seperti dikutip dari Antara, Selasa (6/6).

Menurut informasi yang didapatkannya, Yandri kini dalam proses evakuasi tim SAR gabungan. Orang tua Yandri bahkan langsung datang dari Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, untuk menunggu anaknya itu.

"Orang tua korban sudah menunggu di Pos Simabur," katanya.

Menurut Dwi Puspita, Yandri belum ada pengalaman mendaki gunung. Korban yang sudah hilang selama tiga hari pascaerupsi Gunung Marapi itu, ikut mendaki gunung bersama pamannya.

Rombongan pendaki berjumlah 16 orang yang terdiri dari delapan orang asal Kota Pekanbaru, enam orang dari Kota Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, dan dua pendaki asal Payakumbuh.

Delapan pendaki dari Kota Pekanbaru berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Senin (5/6). Para pendaki asal Pekanbaru yang telah ditemukan antara lain bernama Dwi Puspita, M. Abdul Mughni, Tander, Yusuf, Robi, Irwandi alias Babe, Roki, dan Hafis.

Erupsi gunung Marapi. (Foto: Dok. BNPB)
zoom-in-whitePerbesar
Erupsi gunung Marapi. (Foto: Dok. BNPB)

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi Sumbar Hartanto, di Bukittinggi, menyebutkan terjadi 45 kali erupsi dengan ketinggian abu bervariasi sejak Minggu (4/6) pukul 10.01 WIB hingga Selasa pukul 06.00 WIB.

"Aktivitas di Marapi masih berupa gempa letusan, yaitu semburan atau tekanan gas yang dikeluarkan dan menyebabkan getaran. Statusnya tetap Waspada Level II," kata Hartanto.

Menurutnya, untuk menaikkan atau menurunkan status dilihat dari aktivitas vulkanik yang menandakan adanya pergerakan magma dalam perut gunung api. Bila aktivitas vulkanik banyak atau meningkat, maka ada pergerakan magma ke permukaan bumi sehingga menyebabkan letusan.

"Hingga saat ini dapat dikatakan aktivitas tersebut masih biasa," imbuhnya.

Erupsi Gunung Marapi mengeluarkan debu vulkanik (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
zoom-in-whitePerbesar
Erupsi Gunung Marapi mengeluarkan debu vulkanik (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Nasridal Patria menyebutkan empat kabupaten dan kota di provinsi itu bersiaga atas segala kemungkinan setelah erupsi Gunung Marapi sejak Minggu (4/6).

Empat kabupaten dan kota itu masing-masing Tanah Datar, Agam, Kota Bukittinggi, dan Padang Panjang.

"Kami berharap tidak ada bencana, namun semua tetap harus waspada," katanya.