Momen Menkomdigi Tinjau Panen Melon-Padi yang Proses Tanamnya Gunakan AI dan IoT
·waktu baca 4 menit

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meninjau panen padi dan melon di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rabu (5/11). Ia mengunjungi dua lokasi yaitu kebun melon Kusuma Farm di Desa Padas, Tanon; dan sawah di Desa Jetak, Sidoharjo.
Dalam kunjungan itu, Meutya menegaskan pentingnya penerapan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan mendukung ketahanan pangan nasional.
“Kalau sering dengar IoT, kecerdasan artifisial, artificial intelligence, itu adalah teknologi-teknologi baru yang harus kita manfaatkan hingga ke pelosok daerah,” ujar Meutya di Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, Jawa Tengah.
“Justru yang paling utama adalah bagaimana penerapan artifisial ini berdampak langsung terhadap produktivitas sesuai dengan sektor-sektor prioritas, di antaranya sektor pertanian,” lanjutnya.
Meutya menjelaskan, teknologi digital ini telah diuji coba dalam sektor pertanian di Sragen sejak Mei 2025. Melalui sistem digital itu, petani bisa memantau kondisi tanah, suhu, hingga kebutuhan pupuk dari ponsel mereka.
“Setelah menggunakan IoT dan kecerdasan artifisial sederhana, ini sudah mampu mengurangi pemakaian pupuk sekitar 40 sampai 50 persen dengan produktivitas yang juga meningkat, emisi karbon yang lebih rendah,” ujar Meutya.
“Jadi ini selain lebih produktif, untuk lingkungan juga lebih baik. Dan yang paling utama adalah pengurangan dari sisi pemakaian pupuk-pupuk yang tentu mengakibatkan penghematan bagi para petani-petani kita di lapangan,” sambung dia.
Uji coba dilakukan lewat kerja sama antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Kementerian Pertanian, serta melibatkan dua perusahaan lokal, Habibi Garden dan PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa.
Sistem yang digunakan, bernama HabibiGrow yang memungkinkan otomatisasi penyiraman dan pemupukan tanaman melalui aplikasi untuk kebun melon hidroponik.
Lalu, ada pula alat bernama Jinawi IoT yang mampu mengukur kelembaban tanah dan merekomendasikan pemupukan yang lebih presisi sesuai kondisi tanah.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan proyek ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Komdigi dan Kementan di awal 2025.
“Dalam tani digital ini kita memanfaatkan teknologi IoT. Sragen dipilih karena konektivitasnya cukup bagus,” kata Edwin.
“Karena tanpa adanya konektivitas ya apa, itu nggak mungkin kita bisa mentransmisi data yang didapat dari IoT ke gadget atau HP-nya bapak ibu petani. Jadi itu salah satunya. Yang kemudian memang sini apa kelompok petaninya dan sistem pertanian sudah jadi,” lanjutnya.
Penggunaan teknologi digital ini pun sangat berguna untuk para petani. Selain hal produktivitas, juga mempengaruhi hasil dari panen tersebut.
“Di sini terjadi penurunan penggunaan pupuk. Kalau dalam catatan kami ini bisa sampai dengan 50%,” kata Edwin.
“Kemudian yang kalau untuk melon tadi siklus melon tetap 70 hari, 60-70 hari. Tapi beratnya nambah, bobotnya nambah dan tingkat kemanisannya juga nambah sehingga harga jual melon lebih tinggi,” tambahnya.
AI Jadi Pilar Ketahanan Pangan
Meutya menyebut penerapan AI di pertanian bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kemandirian pangan. Ia menegaskan hal itu selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada KTT APEC pada Sabtu, (1/11) lalu, yang menyebut Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dan jagung dalam satu tahun berkat dukungan teknologi.
“Presiden menegaskan bahwa penerapan kecerdasan artifisial di sektor pertanian telah membuat Indonesia mencapai swasembada beras dan juga jagung,” kata Meutya.
Program tani digital di Sragen dijadwalkan selesai pada Desember 2025 dan akan dilanjutkan oleh Kementerian Pertanian.
“Jadi, use case ini selama 6 bulan, bantuan dari pemerintah atas arahan Bapak Presiden di mana para petani, baik padi maupun melon, juga dibantu dengan alat-alat yang berbasis internet of things,” kata Meutya.
“Dan nanti setelahnya, mudah-mudahan bisa diteruskan oleh kementerian teknis terkait. Jadi, kita kerja sama, ada MOU antara Kementerian Komdigi dengan Kementerian Pertanian,” tuturnya.
Pemerintah menargetkan model serupa diterapkan di daerah lain agar lebih banyak petani bisa menikmati kemudahan teknologi.
“Kalau teknologi masuk ke Indonesia tidak mampu membantu para petani, maka teknologi itu menjadi tidak bermanfaat bagi kita. Dia harus bermanfaat bagi para petani,” tegas Meutya.
Dari Manual ke Digital: Petani Muda Sragen Kini Pantau Lahan dari HP
Salah satu petani muda di kebun melon tersebut, Bisma Rizki Ramadhani (25), mengaku kini pekerjaannya jauh lebih mudah sejak lahan melonnya dilengkapi sistem digital.
“Digitalisasinya dari sistem penyiraman otomatis. Semua termonitoring dari aplikasi. Pemupukan juga,” kata Bisma saat ditemui di Kusuma Farm, Desa Padas, Tanon, Sragen, Jawa Tengah.
Dulu, Bisma harus naik-turun tangga setiap hari untuk menyiram dan mencampur pupuk secara manual. Kini, semua bisa dikendalikan dari ponsel.
“Kalau sebelumnya saya masih manual. Untuk proses peracikan masih manual, semua cek alat juga masih manual. Kalau saat ini sudah efisiensi tenaga kerja dan waktu,” ujarnya.
Bisma juga mengaku sistem ini memudahkan petani yang bisa memantau kondisi lahan dari rumah.
“Sangat membantu sekali bagi para petani melon seperti saya khususnya,” ujar dia.
