Momen Sri Sultan Bagikan Udhik-Udhik kepada Warga saat Kondur Gangsa

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membagikan udhik-udhik yakni uang koin hingga beras ke warga masyarakat di Kagungan Dalem Masjid Gedhe, Selasa (25/8/2026). Foto: Dok. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
zoom-in-whitePerbesar
Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membagikan udhik-udhik yakni uang koin hingga beras ke warga masyarakat di Kagungan Dalem Masjid Gedhe, Selasa (25/8/2026). Foto: Dok. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membagikan udhik-udhik berupa uang koin hingga beras kepada warga di Kagungan Dalem Masjid Gedhe, Selasa (25/8) malam.

Pembagian udhik-udhik merupakan bagian dari prosesi Kondur Gangsa yang menjadi rangkaian Hajad Dalem Sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut telah diwariskan sejak era Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Carik Kaprajuritan, Jajar Yuda Kawindra, mengatakan dalam prosesi tersebut Sri Sultan turut didampingi putri keraton serta para mantu, yakni GKR Mangkubumi, GKR Bendara, KPH Wironegara, dan KPH Purbodiningrat.

"Udhik-udhik itu merupakan simbol sedekah dari Ngarsa Dalem (Sri Sultan) kepada masyarakat atau kepada kawula Dalem. Isinya berupa beras kuning, lalu ada uang logam, koin logam itu, dan ada bunga. Itu melambangkan suatu sedekah dan berkah bagi rakyat dari Sultan," kata Jajar Yuda.

Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membagikan udhik-udhik yakni uang koin hingga beras ke warga masyarakat di Kagungan Dalem Masjid Gedhe, Selasa (25/8/2026). Foto: Dok. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Setelah pembagian udhik-udhik, risalah Nabi Muhammad SAW dibacakan sebagai rangkaian puncak Sekaten. Setelah mendengarkan risalah tersebut, Sultan kembali ke Keraton.

Bersamaan dengan itu, kedua Gamelan Sekati dibawa kembali ke Keraton dalam prosesi yang disebut Kondur Gangsa.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kedua Gamelan Sekati, Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, langsung dibawa kondur atau kembali ke Keraton Yogyakarta setelah Ingkang Sinuwun (Sri Sultan) jengkar dari Kagungan Dalem Masjid Gedhe.

"Setelah Ngarsa Dalem kembali ke Kedhaton, gamelan diusung oleh para konco Gladhag dan prajurit juga mengantarkan kembalinya Gamelan Sekati ke Bangsal Trajumas," ujarnya.

Acara kali ini masih berpedoman pada pesan Sri Sultan saat momen Garebeg Besar pada 27 Mei lalu. Karena itu, Garebeg Mulud Be 1960 kali ini juga digelar secara sederhana.

"Dhawuh Dalem (perintah dari Sultan) terkait penyelenggaraan Garebeg masih sama. Kami menerima dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebeg, dimulai dari Garebeg Besar kemarin sampai sekarang Mulud juga masih dengan konsep pembagian ubarampe pareden. Meski begitu, karena ini bulan Mulud, ada beberapa rangkaian Hajad Dalem Sekaten yang tetap akan digelar sebelumnya," ungkap KRT Kusumanegara, salah satu abdi dalem senior berpangkat Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta.