Muhadjir Minta PPATK Lacak Penerima Bansos yang Main Judi Online

17 Juni 2024 13:14 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi judi online. Foto: Marko Aliaksandr/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi judi online. Foto: Marko Aliaksandr/Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Menko PMK, Muhadjir Effendy, akan berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk melacak warga penerima bantuan sosial (bansos) yang bermain judi online.
ADVERTISEMENT
Menurut Muhadjir, berdasarkan data yang diperoleh dari PPATK, ada sekitar 5 ribu rekening yang telah diblokir terkait judi online.
"Nanti itu saya juga akan minta PPATK, jangan-jangan di antara nomor rekening yang diblokir itu ada penerima bansos," ujar Muhadjir di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (17/6).
Menko PMK Muhadjir Effendy usai melaksanakan Salat Idul Adha 1445 H di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (17/6/2024). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Nantinya bila kedapatan ada penerima bansos yang bermain judi online akan langsung ditindak tegas.
"Kalau ada penerima bansos, ya akan kita tangani itu. Karena bagaimana pun tidak bisa mereka menerima bansos," ujar Muhadjir.

Ada 3,2 Juta Pemain Judi Online

Ilustrasi judi online. Foto: Stokkete/Shutterstock
Koordinator Kelompok Humas PPATK, Natsir Kongah, mengungkapkan ada sebanyak 3,2 juta masyarakat Indonesia bermain judi online. Dari 3,2 juta masyarakat tersebut, hampir 80 persennya menghabiskan Rp 100 ribu dalam sehari untuk judi online.
ADVERTISEMENT
"Itu terus meningkat, ya, sampai sejauh ini ada 5 ribu rekening yang kita blokir. Dan dari 3,2 juta yang kita identifikasi pemain judi online itu, itu rata-rata main di atas Rp 100 ribu. Hampir 80 persen dari 3,2 juta pemain yang teridentifikasi itu," ujar Natsir dalam diskusi Polemik Trijaya dengan tema Mati Melarat karena Judi, Sabtu (15/6).
Mirisnya, kata dia, rata-rata pemain judi online tersebut didominasi oleh pelajar hingga ibu rumah tangga.
"Ada pelajar, mahasiswa, Ibu rumah tangga, dan ini yang cukup mengkhawatirkan buat kita sebagai anak bangsa," ucap Natsir.