Muhadjir soal Tarif Candi Borobudur: Jangan Dilihat Naiknya, tapi Latar Belakang
·waktu baca 2 menit

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy ikut berkomentar terkait rencana kenaikan harga tiket masuk ke Candi Borobudur bagi wisatawan lokal sebesar Rp 750.000.
Muhadjir meminta masyarakat untuk tidak melihat hal ini hanya dari sisi kenaikan tiketnya. Sebab, ada banyak hal yang melatarbelakangi rencana kenaikan tiket Candi Borobudur itu.
"Sebetulnya jangan dilihat naik tidaknya ya, tapi dilihat latar belakangnya yang menjadikan pertimbangan yang sudah kita bahas lama," ujar Muhadjir usai menghadiri acara Dies Natalis ke 57 di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rabu (8/6).
Ia mengatakan, sebagai warisan dunia yang diakui Unesco, candi Buddha ini telah mengalami banyak hal yang membuat konstruksinya mulai miring, yang diperparah dengan adanya beban pengunjung selama ini.
"Kita ingin betul-betul menyelamatkan dan salah satu yang menjadi masalah dengan Borobudur adalah beban pengunjung. Sementara untuk menahan beban material yang di candi itu sudah sangat berat, kita tahu itu sudah mulai miring, kan sejak awal ada penyangga dan kita tidak ingin itu terjadi terus," kata dia.
Untuk itu, menurutnya, kenaikan tarif untuk masuk ke Candi Borobudur layak untuk diperhitungkan demi menjaga salah satu peninggalan bangsa.
"Untuk upaya memperkecil jumlah pengunjung dalam arti yang naik ke candi maka salah satu upaya dengan menaikkan tiket itu karena kita ingin betul-betul menjaganya," tegas dia.
Namun, ia menegaskan, pemerintah masih membuka ruang diskusi tentang aturan ini agar tidak terjadi kegaduhan di masyarakat.
"Nanti kalau memang banyak saran, usulan dari berbagai pihak tentang tarif yang ditetapkan itu, nanti akan kita tinjau lagi. Kita cari jalan lain bagaimana supaya tujuan mulia niat awal kita untuk memproteksi, menjaga keagungan keanggunan dari nilai peninggalan kita yang sangat tak ternilai harganya itu tetap terjaga. Nanti akan kita lihat," kata Muhadjir.
