News
·
6 Mei 2021 10:47

Muhammadiyah: Indonesia Overdosis Radikalisme pada Islam

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Muhammadiyah: Indonesia Overdosis Radikalisme pada Islam (184907)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: PP Muhammadiyah
Radikalisme jadi isu populer yang dilontarkan pemerintah untuk mencap kelompok tertentu. Meski, tak ada definisi jelas yang jadi patokan pemerintah.
ADVERTISEMENT
Eks Menag Fachrul Razi pernah mengidentifikasi radikal dengan good looking dan hafal Al-Quran, MenPANRB menyikapi dengan mendepak mereka yang radikal.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengeluhkan tajamnya fenomena penyematan radikalisme kepada umat Islam. Menurut Haedar, penyematan semacam itu tidak hanya bermasalah secara akademik dan historis, tapi juga bermasalah bagi kerja-kerja moderasi kelompok Islam moderat seperti Muhammadiyah.
“Kami juga melakukan kritik, Indonesia juga overdosis ketika mengeksplor radikalisme-ekstremisme itu pada Islam. Dan itu kekeliruan besar sebenarnya,” kata Haedar dalam forum Center of Southeast Asian Social Studies Universitas Gajah Mada, dikutip dari website Muhammadiyah, Kamis (6/5).
Haedar mengurai, menghadapi radikalisme-ekstremisme, Muhammadiyah menggunakan metode moderasi, yakni memperluas dakwah dengan penekanan sikap tengahan atau wasathiyah di dalam Islam.
ADVERTISEMENT
Cara moderasi, dianggap lebih efektif memutus mata rantai tak berkesudahan radikalisme. Akan tetapi, minimnya penyampaian dakwah moderasi dianggap berat jika sematan radikalisme kepada umat Islam masih gencar dilakukan.
“Ketika radikalisme dan ekstremisme hanya disematkan pada Islam, itu nanti akan kontraproduktif dan menggeneralisasi. Kami yang hadir di titik moderat itu juga berat menghadapinya,”
- Haedar.
Menggunakan lensa yang lebih luas, nyatanya gejala radikalisme tidak hanya berlaku pada agama saja, Haedar melihat gejala ini juga terjadi pada kelompok yang terlalu nasionalis sehingga menganggap hal-hal yang berkaitan dengan agama mengancam eksistensi negara.
“Bagi sosial politik yang berdimensi nasionalisme juga ada kecenderungan radikalisme melalui ultra nasionalis, tidak suka dengan mereka yang membawa agama. Begitu mendengar agama itu alergi,” kritiknya.