News
·
28 Oktober 2020 12:03

MUI Kecam Presiden Prancis Rendahkan Islam: Umat Tak Akan Tinggal Diam

Konten ini diproduksi oleh kumparan
MUI Kecam Presiden Prancis Rendahkan Islam: Umat Tak Akan Tinggal Diam (4496)
Sekjen MUI Anwar Abbas. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menuai kecaman luas dari umat Islam di seluruh dunia karena menghina Islam dan merendahkan Nabi Muhammad SAW. Kecaman juga datang dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
Sekjen MUI, Anwar Abbas, menyebut Macron menyulut permusuhan. Di antara pernyataan Macron yang memicu kemarahan adalah mengkaitkan Islam dengan terorisme, muslim dengan separatisme, dan Islam adalah agama yang mengalami krisis di dunia.
"Bagi umat Islam kalau ada orang yang menghina agamanya dan merendahkan Nabi Muhammad SAW apalagi dia seorang presiden, maka umat Islam tentu tidak akan tinggal diam. Berbagai reaksi tentu akan terjadi," ucap Anwar Abbas dalam rilisnya, Rabu (28/10).
Anwar mengomentari aksi pria Chechnya memenggal guru di Prancis bernama Samuel Paty setelah menunjukkan gambar Nabi ke muridnya. Peristiwa itu yang membuat Macron merendahkan Islam.
MUI Kecam Presiden Prancis Rendahkan Islam: Umat Tak Akan Tinggal Diam (4497)
Aktivis dan Partai Politik Islam di Bangladesh menggelar unjuk rasa menentang Prancis di Dhaka, Bangladesh. Foto: MUNIR UZ ZAMAN / AFP
Padahal, kata Anwar, kalau ada umat Islam yang melakukan tindak kekerasan, maka jangan hanya mereka yang disalahkan, tapi yang harus lebih disalahkan lagi adalah orang yang telah memantik reaksi dari umat Islam tersebut.
ADVERTISEMENT
"Kalau dunia ingin tenang dan damai, maka jangan ada di antara kita yang menghina dan merendahkan orang lain dan agama serta keyakinannya atas dasar apa pun."
- Anwar Abbas
"Untuk itu saya meminta Macron agar mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam," imbuhnya.
MUI Kecam Presiden Prancis Rendahkan Islam: Umat Tak Akan Tinggal Diam (4498)
Presiden Prancis Emmanuel Macron saat mengunjungi lokasi ledakan yang hancur di pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis (6/8). Foto: Thibault Camus/Pool via REUTERS
MUI tidak bisa menerima alasan Macron yang menyebut menghormati dan melindungi kebebasan berekspresi rakyatnya, karena kebebasan berekspresi tetap harus ada batasnya. Jika tidak, maka dunia akan terseret kekacauan, permusuhan, dan dendam berkepanjangan.
"Supaya masalah ini tidak berlarut-larut dan tidak menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dunia, maka kita mengharapkan agar macron secepatnya mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam," tuturnya.
"Saya yakin dan percaya bila yang bersangkutan mau meminta maaf atas sikap dan tindakannya tersebut, maka umat Islam tentu pasti akan memaafkannya sehingga api permusuhan yang sudah menyala tersebut akan bisa padam secepatnya karena umat Islam adalah umat yang pemaaf dan cinta damai," tutupnya.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white