MUI: Penggunaan Susuk Syirik dan Menipu Masyarakat

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi memasukkan susuk. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memasukkan susuk. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Susuk digunakan untuk beragam tujuan. Mulai dari kekuasaan, mencari jodoh, kelancaran usaha hingga karier.

Penggunaan susuk menuai pro dan kontra. Meski begitu masih banyak orang yang memilih untuk menggunakan cara instan ini untuk mencapai tujuannya. Misalnya saja penggunaan susuk oleh pejabat agar menang dalam pemilu, atau cepat naik jabatan.

video youtube embed

Menanggapi hal tersebut Ketua MUI Bidang Fatwa, Huzaemah, menuturkan kegiatan tersebut sangat bertentangan dengan agama hingga termasuk dalam ketegori penipuan. Apalagi hal tersebut terjadi dalam proses pemilihan kepala daerah hingga menyangkut soal jabatan.

“Manusia berusaha yang menentukan kan Allah, nggak usah pakai susuk supaya ditunjuk jadi pejabat, itu termasuk menipu, itu mengelabui orang," ujar Huzaemah kepada kumparan, di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (01/08).

Samber lilin, binatang yang biasa dijadikan susuk. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Samber lilin, binatang yang biasa dijadikan susuk. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Huzaemah melanjutkan sebagai manusia ciptaan Allah harusnya setiap individu menjaga karya yang sudah Tuhan berikan kepada hambanya, sehingga tak perlu lagi ada upaya-upaya untuk berusaha melakukan perubahan yang kesan akhirnya seolah-olah menduakan Tuhan.

"Ya jalan seperti biasanya ajalah, apa adanya dan nggak usah mengubah-ubah ciptaan Allah, karena itu memang sudah takdir dari Allah, manusia itu hanya berusaha tapi Allah yang menentukan," ujarnya.

"Intinya itu syirik juga kan, orang meminta itu kepada Allah, ud'uni astajib lakum," tambahnya.

Huzaemah menyebut, memang tak bisa dipungkiri hingga saat ini pengunaan susuk masih marak dan caranya juga beragam. Dia mengimbau agar pengunaan susuk tersebut sebaiknya dihentikan dan percaya kepada Sang Pencipta saja.

Ilustrasi susuk pejabat (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi susuk pejabat (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Saya mengimbaulah jangan percaya dukun-dukun. Memang ada yang benar dan yang tidak apalagi ada yang kesurupan itu kan memang ada jin yang masuk,” katanya.

Susuk memang begitu menarik perhatian, fenomenanya berkembang di balik layar. Banyak orang yang diam-diam menjadikan susuk sebagai senjata pamungkas untuk mencapai tujuan. Namun perlu diingat semua cara yang instan tidak akan berujung pada keabadian.

“Yang mengetahuhi yang benar itu hanya Allah, jangan kita syirik," pungkasnya.

Simak selengkapnya dalam konten spesial kumparan dengan topik Susuk Pejabat.