Mukti Selamat dari Kebakaran Zahro Express Berkat Styrofoam

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tempat clubbing yang berada di Bogor. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tempat clubbing yang berada di Bogor. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)

Mukti (36), karyawan X-One Lounge Club, Bogor, adalah satu dari ratusan korban selamat lainnya dalam kebakaran Kapal Zahro Express, Minggu (1/1). Pagi itu, ia berlayar bersama 56 teman sekantornya dalam rangka liburan ke Pulau Tidung.

Baru setengah jam berlayar, kapal yang dinaiki Mukti terbakar. Saat api menjalar di hampir sebagian besar tubuh kapal, Mukti menyelamatkan diri dengan memanfaatkan styrofoam yang ia temukan di bagian atas kapal.

"Saya panik melihat kondisi kapal bagian bawah penuh dengan asap hitam. Saya menuju bagian paling atas dari kapal mau cari pelampung, tapi saya hanya mendapat styrofoam. Ya sudah saya beranikan diri loncat ke laut cuma dengan modal styrofoam itu," ujar Mukti saat ditemui di lokasi kerjanya, Jalan Siliwangi, Bogor, Senin (2/1).

Setelah berhasil melompat ke laut, ia kemudian berusaha menolong temannya yang melompat ke laut tanpa pengaman apapun.

"Pas udah bisa ngambang saya coba bantu teman saya. Dia panik enggak dapat styrofoam, jadi dia langsung asal lompat gitu saja. Saya coba bantu, semua memanggil saya dan alhamdulillah saya bisa menarik teman-teman saya," kata Mukti.

Akibat peristiwa nahas tersebut, Jackson Wilhemus, pimpinan perusahaan yang mengajak mereka berlibur, meninggal dunia. Mukti juga kehilangan seorang rekan kerjanya yang hingga saat ini masih dalam pencarian tim Basarnas.

"Yang saya tahu meninggal 1 orang, Pak Jackson, dia selaku manajer di sini. Ada satu korban lagi masih hilang, namanya Kris, dia DJ di sini," ujar karyawan bagian itu.

Saat pertama kali asap muncul, Mukti sedang berada di kabin bagian atas bersama teman-temannya. Kapal itu memiliki dua kabin, yaitu atas dan bawah.

"Penumpang ada yang di kabin bawah dan di kabin atas. Saya di atas, tiba-tiba ada yang teriak 'ada yang kebakar' gitu. Saya ingat banget itu yang kebakar bagian bawah kapal dulu, tapi enggak tahu api asalnya dari mana. Kami yang di atas bingung karena belum ada apinya di atas. Beberapa saat baru muncul asapnya," ujarnya.

Mukti bercerita, saat mendengar teriakan tersebut kondisi kabin langsung tak kondusif. Semua orang panik, dan kapal miring ke arah kiri. Saat itu Mukti mengaku sempat melihat beberapa ABK berusaha meredam kobaran api yang berasal dari kabin bagian bawah.

"Saya lihat sih beberapa ABK turun tangan. Saya pikir mereka bisa memadamkan, tapi kok lama lama asapnya semakin tebal dan di bawah kaki saya itu sudah ada mulai keluar api, ya saya kaget dong ya, ikutan teriak juga 'ada api ada api' gitu," kata Mukti.

Mukti menambahkan, selama ia berada di atas kapal, ia sama sekali tidak melihat tumpukan pelampung.

"Keamanannya minim banget sih, pelampungnya itu loh, padahal penumpang banyak, tapi saya enggak lihat ada tumpukan pelampung," katanya.

Mukti menarik pelajaran berharga dari musibah kebakaran Zahro Express. "Seandainya saya harus ke sana lagi sih, mungkin pertama saya bakal cek keamanan kapal dulu, minimal ada pelampung enggak gitu, pokoknya lain kali faktor keamanan bakal jadi prioritas utama saya deh, kapok saya," akunya.