Mungkinkah Harga Tes PCR di Indonesia di Bawah Rp 100 Ribu seperti India?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang petugas kesehatan mengumpulkan sampel swab PCR di Chennai, India. Foto: Arun SANKAR/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang petugas kesehatan mengumpulkan sampel swab PCR di Chennai, India. Foto: Arun SANKAR/AFP

Punya akurasi tinggi dalam mendeteksi COVID-19 membuat tes PCR kini menjadi kewajiban bagi masyarakat sebelum bisa melakukan beragam aktivitas. Namun, harga tes PCR di Indonesia cukup menguras kantong dan tak jarang dikeluhkan sejumlah pihak.

Sementara itu, baru-baru ini pemerintah India menurunkan harga maksimal tes PCR menjadi 500 Rupee atau setara Rp 96 ribu. Ini sangat jauh dengan Indonesia yang tes PCR mandirinya di kisaran Rp 600-900 ribu.

Lantas, mungkinkah Indonesia bisa menurunkan harga tes PCR hingga di bawah Rp 100 ribu?

Menjawab hal ini, Ketua Umum PP PDS PatKLIn Prof Aryati menerangkan ada berbagai macam PCR yang masuk ke Indonesia. Namun secara umum, ada dua jenis yang dipakai yakni open system dan closed system.

Aryati menerangkan bahwa harga PCR yang bermetode closed system dibanderol cukup mahal oleh distributor. Kata dia, harga tes PCR jenis ini tak mungkin bisa di bawah Rp 700 ribu.

“Closed system itu bisa menjamin untuk mengurangi risiko kontaminasi, termasuk keterampilan petugas. Ruangan juga bisa lebih ringkas dan lain-lain. Nah, closed system ini rata-rata jauh lebih mahal daripada open system,” kata Aryati kepada kumparan, Minggu (15/8).

Petugas kesehatan mengambil sampel lendir seorang warga saat tes usap RT PCR COVID-19 massal di Kantor Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/1). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

“Jadi memang agak sulit dibuat harga satu unit PCR. Menurut saya kalau harga buat closed system seperti menggunakan Abbott M2000i, GeneXpert, Pockit, itu harga jualnya dari distributor memang sudah mahal. Enggak mungkin bisa di bawah Rp 700 ribu,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Aryati menerangkan kalau alat tes PCR dengan metode open system bisa dijual lebih murah atau di bawah Rp 500 ribu. Tetapi ia mengingatkan masih ada biaya penunjang untuk menjaga kualitas hasil tes PCR tersebut.

“Memang bisa harga jual ke masyarakat seperti di bawah Rp 500 ribu karena banyak manualnya. Tapi tentu lebih rawan macam-macam hal termasuk perlu keterampilan petugas yang tinggi. Membuat lab yang memenuhi syarat juga tidak murah. Kemudian menjaga kualitas agar tidak terjadi kontaminasi, belum lagi perlu pengulangan-pengulangan kalau target gen yang keluar hanya satu dan lain-lain,” papar dia.

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio membenarkan harga tes PCR di Indonesia belum bisa di bawah Rp 100 ribu.

“Faktor harga impor memang sangat menentukan, baik reagensia maupun alat. Saat ini di Indonesia belum dimungkinkan tes PCR di bawah Rp 100 ribu,” kata Amin.

Kenapa harga tes PCR di India bisa sangat murah?

Pemkab Bantul jemput bola melakukan swab PCR di Dusun Lopati. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Amin menyebut fakta bahwa India bisa memproduksi alat tes sendiri membuat harga PCR di negara itu murah. Adapun perpajakan dan dukungan pemerintah terhadap pengembangan dan produksi tes PCR ikut berperan.

“Faktor-faktor lain, seperti perpajakan dan dukungan-dukungan lain terhadap penelitian dan pengembangan juga berperan,” kata Amin.

Sementara itu, Aryati tak tahu secara rinci mengapa harga PCR di India bisa sangat murah. Tetapi ia menegaskan, sulit untuk menurunkan harga PCR di pasaran Indonesia saat ini apabila kualitas hasil tes dan pelayanan ingin dipertahankan.

“Kita harus menjamin kualitas. Contoh rapid antigen yang bagus Panbio aja kami belinya masih di atas Rp 100 ribu. Yang lain-lain bisa sudah menjual di publik dengan harga Rp 70 ribu. Nah, itu kan akhirnya yang kualitas bagus tadi jadi enggak dibeli,” jelas Aryati.

Indonesia Bisa Produksi Tes PCR Sendiri, Tapi Tak Menjamin Bisa di Kisaran Rp 100 Ribu

Prof Aryati menerangkan ada empat komponen utama PCR yakni alat ekstraksi, alat PCR, reagen ekstraksi, dan reagen PCR. Sebetulnya sudah ada beberapa komponen yang diproduksi dan beredar lokal, salah satunya reagen PCR buatan Biofarma yakni mBiocov.

“Nah, reagen PCR sudah bisa diproduksi sendiri dari Biofarma namanya mBiocov. Reagen ekstraksi sekarang sudah ada dari Unpad, tapi masih proses validasi belum masuk publik,” ujar dia.

Kendati demikian, cukup rumit untuk bisa mencocokkan empat komponen tersebut. Masing-masing kombinasi harus dilakukan proses standarisasi yang bisa memakan waktu cukup lama beberapa hari sampai minggu.

“Jadi kalau open system itu memang ada seninya. Kalau bisa dibilang ya kadang-kadang di awal ada rewel-rewelnya gitu, enggak bisa langsung ready dipakai seperti closed system yang biasanya empat komponen dalam satu cartridge. Dan cukup satu mesin termasuk yang digunakan untuk TCM (tes cepat molekuler),” terang dia.

Infografik manfaat tes antigen dan PCR corona. Foto: Tim Kreatif kumparan

Maksud Aryati, apabila nantinya Indonesia banyak memproduksi alat PCR open system juga belum tentu dapat menurunkan harga tes hingga di kisaran Rp 100 ribu. Begitu pun untuk PCR closed system yang sudah pasti lebih mahal.

“Kalau di bawah Rp 300 ribu saya dengar hitung-hitungannya bisa modal reagennya saja. Jangan lupa harga jual itu kan harus memperhitungkan harga beli alatnya, komponen-komponen pendukungnya seperti lab besarnya, alat BSC-2, lemari es penyimpan reagen, vorteks, alat pipet otomatis, tip-tip,” ucap dia.

“Lalu membuat ruangan BSL-2 pakai hepa filter dan membuat tekanan negatif, bayar listrik, petugas yang mengerjakan, biaya pengulangan reagen kalau hanya 1 target gen saja yang keluar kalau misalnya PCR memakai 1 target gen, serta biaya VTMnya, dan lain-lain. Ini yang open system, [apalagi] closed system sudah beres tapi mahal,” tandas dia.