Museum Tertua Kedua di Dunia di Jepang Tak Bisa Bayar Tagihan Listrik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga berjalan melewati Museum Nasional Alam dan Sains di Taman Ueno,Tokyo, Jepang. Foto: Richard A. Brooks / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Warga berjalan melewati Museum Nasional Alam dan Sains di Taman Ueno,Tokyo, Jepang. Foto: Richard A. Brooks / AFP

Museum tertua kedua di dunia, National Museum of Nature and Science, terpaksa menggelar penggalangan dana demi membayar tagihan listrik yang membengkak.

Museum berusia 146 tahun yang terletak di Ibu Kota Jepang, Tokyo, ini dilaporkan akan melanjutkan penggalangan dana publik hingga 5 November 2023.

Dikutip dari AFP, Pimpinan National Museum of Nature and Science, Kenichi Shinoda, dalam sebuah video pada Senin (7/8) mengatakan, tujuan penggalangan dana ini dilakukan untuk menyelamatkan koleksi-koleksi museum yang memerlukan perawatan tidak murah.

Shinoda menyebut koleksi-koleksi museum yang terdiri dari koleksi spesimen hewan dan tumbuhan zaman purba itu sebagai 'hadiah dari masa lalu untuk masa depan'.

Dia menjelaskan, biaya perawatan lima juta artefak — mulai dari tulang dinosaurus hingga fosil beruang di National Museum of Nature, pada suhu dan tingkat kelembapan yang konstan akan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun ini.

Warga berjalan melewati Museum Nasional Alam dan Sains di Taman Ueno,Tokyo, Jepang. Foto: Richard A. Brooks / AFP

Angkanya, menurut Shinoda, akan menjadi lebih dari USD 2,6 juta (Rp 39,5 miliar). "Museum di pusat kota Tokyo, yang menampilkan model paus biru di bagian luarnya, sebelumnya telah beralih ke penggalangan dana untuk tiga proyek yang lebih kecil, tetapi target 100 juta yen (Rp 10,6 miliar) adalah yang tertinggi yang pernah ada untuk museum tersebut," jelasnya.

Shinoda mengatakan, beberapa pihak berpendapat target 100 juta yen terlalu tinggi dan dia harus menurunkannya. Meski demikian, target tersebut justru tercapai hanya dalam hitungan jam saja — dana yang terkumpul jauh melampaui target.

Platform penggalangan dana untuk sektor jasa asal Jepang, READYFOR, pada Rabu (9/8) melaporkan lebih dari 30 ribu orang telah memberikan sumbangan dengan total 480 juta yen (Rp 51 miliar) kepada National Museum of Nature and Science.

Warga berjalan melewati Museum Nasional Alam dan Sains di Taman Ueno,Tokyo, Jepang. Foto: Richard A. Brooks / AFP

Atas bantuan yang mengalir deras ini, pihak pengelola museum dalam situs READYFOR mengungkapkan rasa harunya. "Para peneliti dan staf merasa terharu telah menerima banyak dukungan," ujarnya.

Adapun National Museum of Nature and Science telah menyiapkan cenderamata unik untuk para donatur sebagai imbalannya.

Contohnya seperti spesimen tanaman dari akrilik, tur istimewa yang dipandu oleh pimpinan museum, hingga sesi study tour yang memungkinkan peserta menyentuh tulang manusia purba.

Menurut laporan media lokal, pemerintah Jepang saat ini sedang mengalami kekurangan dana. Pihaknya juga dilaporkan menolak permintaan pengelola museum untuk menambahkan dana — justru mengurangi pemberian subsidi.