Musim Hujan Mulai September, BMKG Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi musim hujan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi musim hujan. Foto: Shutter Stock

BMKG memprediksi musim hujan pada 2021 akan terjadi lebih awal, pada September-Oktober.

Mengantisipasi hal itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memperingatkan pemerintah daerah dan seluruh masyarakat terkait potensi timbulnya bencana akibat majunya musim hujan ini.

"BMKG memperingatkan adanya potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi menyusul prediksi musim hujan yang akan datang lebih awal lebih awal dari normalnya atau dari biasanya pada tahun 2021 ini," ujar Dwikorita dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Kamis (26/8).

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi atau dampaknya dipicu berbagai kondisi cuaca dan iklim, seperti peningkatan curah hujan, suhu dan cuaca ekstrem. Contoh bencana hidrometeorologi adalah banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Daerah-daerah yang Berpotensi Curah Hujan Tinggi

Tak hanya itu, BMKG, juga memperkirakan peningkatan intensitas hujan tinggi di beberapa wilayah. Hal diminta diantisipasi sedini mungkin, mengingat potensi banjir kerap menjadi ancaman seiring meningkatnya curah hujan.

Sejumlah wilayah dengan curah hujan tinggi itu di antaranya sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

"Sejumlah wilayah di Indonesia juga diprediksi akan mengalami musim hujan dengan intensitas lebih tinggi dari biasanya di antaranya yaitu di wilayah yang akan mengalami musim hujan dengan intensitas lebih tinggi dari biasanya," ucap Dwikorita.

Foto udara sejumlah rumah terendam banjir di Desa Wonoamonapa, Kecamatan Pondidaha, Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (21/8/2021). Foto: Jojon/Antara Foto

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah mewaspadai peningkatan intensitas curah hujan. Menurut Dwikorita, upaya mitigasi perlu dipersiapkan, khususnya di sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak peningkatan curah hujan.

"Untuk itu BMKG mengimbau pemerintah daerah setempat dan masyarakat di wilayah yang kami sampaikan tadi perlu mewaspadai, mengantisipasi, dan melakukan aksi mitigasi lebih awal, guna menghindari dan mengurangi risiko bencana dan Puncak musim hujan periode 2021 hingga 2022 sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Januari dan Februari," ungkap Dwikorita.

"Perlu diperhatikan bersama terutama di wilayah yang rawan banjir, rawan longsor, ataupun tanah bergerak seiring dengan intensitas curah hujan yang akan makin meningkat. Maka itulah tadi mohon mitigasi perlu disiapkan," lanjut dia.

Tanah longsor menimpa tiga rumah warga di Dusun Sadang, Desa Pakel, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Foto: Dok. Istimewa

Sementara kepada masyarakat, Dwikorita meminta dapat segera mengunduh aplikasi info BMKG. Kanal tersebut, disebutnya, dapat menjadi pedoman masyarakat dalam memantau kondisi cuaca serta iklim di wilayah mereka.

"Detailnya untuk kondisi di tiap kabupaten dan Kecamatan silakan cek di aplikasi mobile phone info BMKG di situ Bapak Ibu bisa cek sampai kondisi 6 hari ke depan ini khususnya cuaca 6 hari ke depan ya dan update setiap 3 jam dalam setiap harinya," pungkas Dwikorita.