Musim Kemarau Mengancam, BMKG Akan Modifikasi Cuaca di Jawa hingga Bali

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengimbau pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk siap siaga terhadap kemungkinan dampak musim kekeringan selama 5 bulan ke depan.
"Wilayah tersebut diprediksi mengalami kekeringan meteorologis yang dapat berdampak lebih lanjut menjadi kebakaran hutan dan lahan dan kekurangan air bersih," kata Dwikorita dalam tayangan YouTube BMKG, Selasa (28/5).
Untuk itu, BMKG merekomendasikan penerapan modifikasi cuaca dengan pengisian waduk-waduk di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan.
"Jadi BMKG merekomendasikan perlunya penerapan modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di daerah yang berpotensi mengalami kondisi kering pada musim kemarau," ucap Dwikorita.
"Serta membasahi dan menaikkan muka air tanah pada daerah yang rawan mengalami kebakaran lahan dan hutan ataupun pada lahan gambut," tambahnya.
Ia juga mengimbau kepada pihak yang berwenang untuk dapat memastikan konektivitas jalur irigasi antara waduk dengan kawasan yang terdampak kekeringan.
Hal ini dilakukan agar modifikasi cuaca yang mengisi waduk-waduk dapat mengalirkan air ke daerah terdampak kekeringan dengan efektif.
"Selanjutnya daerah yang masih mengalami hujan, jadi masih ada bahkan lebih luas wilayah yang mengalami hujan, atau transisi dari musim hujan ke musim kemarau," tuturnya.
"Perlu segera mengoptimalkan secara lebih masif upaya untuk memanen air hujan, melalui tandon-tandon atau tampungan-tampungan air, embung-embung, kolam-kolam retensi, sumur-sumur resapan, dan sebagainya seiring dengan upaya mitigasi dampak kejadian ekstrem hidrometeorologi basah yang sedang dilakukan. Serta perlu menyesuaikan pola dan waktu tanam," pungkasnya.
Sebelumnya, BMKG memprediksi kekeringan akan melanda Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tenggara. Musim kekeringan ini diprediksi bertahan hingga September 2024.
