Muslim Kanada Ajukan 61 Rekomendasi untuk Atasi Islamofobia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi muslim di Kanada. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi muslim di Kanada. Foto: Shutter Stock

Pemimpin masyarakat Muslim di Kanada memperbarui seruan mereka untuk mengakhiri Islamofobia pada Senin (6/6/2022). Hal itu dilakukan tepat satu tahun sejak serangan terhadap keluarga Muslim di London, Ontario.

Lebih dari 150 delegasi bertemu dengan anggota parlemen di ibu kota Ottawa, pada Senin untuk menuntut tindakan nyata untuk mengatasi Islamofobia dan kejahatan kebencian. Informasi ini dipaparkan oleh juru bicara kelompok advokasi Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM), Fatema Abdalla.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sebelumnya telah berjanji untuk mengatasi isu ini dalam KTT nasional tentang Islamofobia pada Juli tahun lalu.

Papan bertuliskan pesan terlihat di lokasi penembakan di Pusat Kebudayaan Islam, Quebec, Kanada pada 30 Januari 2017. Foto: Alice Chiche / AFP

Pada 2021, NCCM mengajukan daftar 61 rekomendasi upaya untuk mengatasi Islamofobia di semua tingkat pemerintahan. Rekomendasi tersebut meliputi upaya pengembangan strategi anti-Islamofobia federal dan penyediaan dana untuk membantu mendukung korban kejahatan bermotif kebencian.

NCCM juga mendesak provinsi-provinsi Kanada untuk memastikan direktorat anti-rasisme mereka memiliki sumber daya yang baik. Mereka pun meminta pemerintah kota untuk mendanai upaya berbasis masyarakat dalam mengatasi masalah tersebut.

Abdalla mengatakan, meskipun beberapa langkah positif telah diambil sejak 2021, pemerintah masih perlu mengambil lebih banyak tindakan.

“Kami percaya bahwa itu dimulai dari atas. Kita perlu melihat perubahan dan kita perlu melihatnya sekarang, dan salah satu cara utama yang dapat kita lakukan adalah dengan memberi tahu masyarakat Kanada kita tentang bahaya sebenarnya yang dimiliki Islamofobia,” papar Abdalla.

Mengenang Setahun Serangan London, Ontario

Orang-orang berkumpul di TKP di mana seorang pria mengendarai truk pickup melompati trotoar dan menabrak sebuah keluarga Muslim, di London, Ontario, Kanada (7/6). Foto: Carlos Osorio/REUTERS

Selama bertahun-tahun, para pemimpin komunitas Muslim telah meminta pihak berwenang untuk mengatasi rasisme, kekerasan yang dimotivasi oleh kebencian, dan prevalensi kelompok sayap kanan di Kanada.

Pada 6 Juni 2021, Salman Afzaal, istrinya Madiha Salman, putri mereka yang berusia 15 tahun Yumna, dan neneknya yang berusia 74 tahun, Talat Afzaal, tewas setelah seorang pengemudi menabrak mereka dengan truk pick-up saat keluarga itu sedang berjalan-jalan. Putra pasangan itu yang berusia sembilan tahun, Fayez, terluka parah.

Kepala polisi mengatakan pada saat itu bahwa korban menjadi sasaran karena mereka menganut agama Islam.

“Komunitas Muslim masih belum pulih dari insiden ini,” kata Abdalla kepada Al Jazeera dalam sebuah wawancara telepon pada 6 Juni tahun lalu.

“Serangan brutal ini selamanya mengubah hubungan komunitas Muslim dengan Kanada. Muslim takut berjalan di seberang jalan; mereka takut berkumpul di masjid tanpa harus melihat ke belakang,” paparnya.

Insiden London membangkitkan kembali luka dan duka komunitas Muslim Kanada. Beberapa tahun sebelumnya, pada 2017, serangan di masjid Quebec menewaskan sebanyak 6 jemaah. Sementara itu, pada 2020, terjadi penikaman di luar sebuah masjid di Toronto yang menewaskan seorang jamaah.

Pada Minggu (5/6/2022), PM Trudeau dan pejabat pemerintah lainnya menghadiri pawai di London untuk mengenang keluarga Afzaal dan bersatu melawan kebencian.

“Sore ini di London, ribuan orang hadir untuk menghormati keluarga Afzaal; berada di sana untuk Fayez, yang selamat; dan berbaris melawan Islamofobia,” cuit Trudeau di akun Twitternya.

“Untuk mengenang #OurLondonFamily, kita harus terus bekerja sama dan menggunakan setiap alat yang kita miliki untuk memerangi kebencian ini," sambungnya.

Penulis: Airin Sukono.