Muslim United di Yogya Tetap Digelar Meski Dilarang Keraton

Kegiatan Muslim United 2019 tetap digelar di Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, meski Keraton Yogyakarta tidak mengabulkan izin penggunaan Masjid Gedhe Kauman untuk acara tersebut. Acara yang digagas Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) ini mengangkat tema ‘Sedulur Saklawase’ dengan menghadirkan sejumlah ustaz dan dai sebagai pengisi kajian.
Pantauan kumparan di lokasi, Kamis (10/10), sejumlah tenda-tenant sudah mulai terpasang. Panitia di lokasi juga tampak sibuk mempersiapkan acara yang akan berlangsung pada 11 hingga 13 Oktober itu.
Tim Media Center Muslim United, Robby Afana, menjelaskan acara ini tetap berlangsung. Semua ustaz yang ada di poster acara juga hadir, termasuk Ustaz Abdul Somad (UAS).
“Semuanya yang ada di poster (hadir), ya itu yang ada di poster termasuk UAS,” katanya di lokasi, Kamis (10/10).
Kegiatan yang semula akan menggunakan tiga tempat yaitu Masjid Gedhe Kauman, Ndalem Pengulon, dan Alun-alun Utara, ini kini hanya akan menggunakan satu tempat yaitu Masjid Gedhe. Soal perizinan, dirinya mengaku sudah mengantongi izin polsek, sedangkan izin keraton masih dalam proses.
“Dari Polsek sudah. Dari Keraton masih progres,” ujar dia.
“Tetap jalan insyaallah,” tutur Robby.
Sementara itu, dari rilis yang diberikan Tim Media Center Muslim United dijelaskan bahwa Muslim United diselenggarakan untuk mempersatukan kembali umat Muslim. Tujuannya agar dapat saling berdamai dan menjauhkan diri dari perpecahan.
“Sebab, apabila umat Islam yang mendominasi sebanyak 87% di Indonesia ini dapat bersatu, tentunya dapat menjadi potensi luar biasa yang dapat mengurangi angka disintegrasi secara drastis,” tulisnya.
Nanang Syaifurozi ketua panitia Muslim United 2019 mengatakan pengunjung diimbau datang dengan niat karena Allah. Menurutnya dengan keikhlasan maka Allah akan mempersatukan.
“Islam itu mempersatukan umat secara akidah. Allah memerintahkan kita untuk bersatu, jadi datanglah dengan niat karena Allah. Allah yang memerintahkan kita untuk bersilaturahmi dengan sesama umat muslim Oleh karena itu, mari datang dengan niat dan tujuan untuk mempersatukan kembali persaudaraan dengan sesama umat Muslim, karena kita adalah saudara, karena kita adalah ‘Sedulur Saklawase’,” katanya.
Selanjutnya kajian akan diisi oleh sejumlah ustadz dan dai seperti Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Luthfi Basori, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Salim A. Fillah, hingga Ustadz Felix Siauw.
“Selain dihadiri oleh lebih banyak ustaz hingga sekitar 40 ustaz yang akan mengisi kajian dari Subuh sampai malam. Muslim United tahun ini pun turut melibatkan hingga 1000 panitia dan volunteer yang didatangkan dari berbagai komunitas Muslim di Indonesia, serta terbuka untuk umum tanpa perlu melakukan registrasi,” tulisnya.
Dalam tiga hari acara juga digelar Tabligh Akbar, Muslim Expo, Bazaar, Social Activity, Muslim Community Gathering, dan Food Festival. Ada pula penampilan oleh KHAT dan Khoiru Ummah. Acara juga dimeriahkan dengan berbagai doorprize hingga Grand Prize Umroh gratis.
Sebelumnya, Keraton Yogyakarta tidak mengabulkan izin penggunaan Kagungan Ndalem Masjid Gedhe Keraton, Ndalem Pengulon, dan Alun-alun Utara sisi barat, Kota Yogyakarta untuk acara Muslim United pada 11-13 Oktober 2019 mendatang. Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro pun menyarankan panitia mencari alternatif tempat lain.
"Buat panitia juga, semoga bisa menjadi bahan untuk menyiapkan plan B, kalau dari saya seperti itu. Kalau saya panitianya oh tidak diparengke (diizinkan) ya sudah kita coba cari alternatif di tempat lain, kan seperti itu," kata Notonegoro saat ditemui di Bale Raos, Kota Yogyakarta, Kamis (3/10).
Suami Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu itu mengatakan, sebenarnya Keraton tidak perlu menjelaskan tidak dikabulkannya izin acara tersebut. Pasalnya, lokasi tersebut merupakan Kagungan Dalem atau milik keraton.
"Tapi sebenarnya kalau secara prinsip kan itu tempatnya keraton, kemudian mau dipinjam, keraton tidak mau meminjamkan. Kan keraton tidak perlu memberi alasan apa-apa, kecuali kalau itu tempat publik dikelola. Itu bukan, ini Kagungan Ndalem kok, mau dipinjam. Kan kita enggak perlu alasan apa-apa," katanya.
"Kalau misalnya itu tidak diizinkan, ya sudah. Menurut saya keraton tidak ada kewajiban untuk menjelaskan kenapa-kenapa," ujarnya.
Sebelumnya, Pengageng Kawedanan Hageng Panitrapura, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono mengeluarkan surat tidak dikabulkannya izin penggunaan Kagungan Ndalem Masjid Gedhe Keraton, Ndalem Pengulon, dan Alun-alun Utara sisi barat. Dia menjelaskan tidak dikabulkannya izin karena atas pertimbangan keamanan. Mengingat situasi nasional tengah banyak demonstrasi.
“Saya hanya menjaga saja keamanan di Jogja acara yang sifatnya pengerahan massa, karena sekarang kan baru banyak demo di mana-mana,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (2/10) lalu.
