Mu'ti Cek SMKN 2 di Aceh Tamiang yang Terendam Lumpur: Tak Perlu Paksakan KBM

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendikdasmen Abdul Mu'ti meninjau pengungsi di kantor Bupati Aceh Tamiang pada Selasa (9/12/2025). Foto: Fadjar Hadi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendikdasmen Abdul Mu'ti meninjau pengungsi di kantor Bupati Aceh Tamiang pada Selasa (9/12/2025). Foto: Fadjar Hadi/kumparan

Mendikdasmen Abdul Mu'ti melihat langsung SMKN 2 Karang Baru di Aceh Tamiang yang terendam lumpur Imbas banjir dan longsor pada Selasa (9/12).

Kondisi SMKN 2 ini masih berdiri kokoh. Namun seluruh halaman dan ruangan kelas tertutup lumpur setinggi mata kaki.

Mu'ti berkeliling melihat suasana SMK didampingi kepala sekolah dan beberapa pejabat Kemendikdasmen.

Mu'ti menyebut SMK ini memiliki ribuan murid dan sudah bekerja sama dengan perusahaan besar untuk menyalurkan pekerja.

"SMK ini total ada 1.000-an murid," ucap Mu'ti.

Meski sekolah berdiri kokoh, beberapa aset dan dokumen tidak bisa diselamatkan. Termasuk Interactive Flat Pane (IFP) yang diberikan Presiden Prabowo Subianto.

Tak Perlu Paksa KBM

Suasana Aceh Tamiang pascabanjir bandang dan longsor pada Selasa (9/12/2025). Foto: Fadjar Hadi/kumparan

Aceh Tamiang merupakan kabupaten yang terdampak parah banjir dan longsor. Aktivitas warga belum pulih imbas lumpur yang menutupi hampir seluruh jalan.

Warga banyak yang mengungsi termasuk anak-anak. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak bisa berjalan.

Beberapa orang tua siswa sempat khawatir karena saat ini sudah mendekati ujian akhir semester. Menyikapi ini, Mu'ti mengatakan dirinya sudah berbincang dengan seluruh kepala sekolah agar tak perlu memaksakan KBM.

"Tadi kami sampaikan ke kepsek di sini karena memang situasinya tidak memungkinkan untuk belajar maka tidak usah dilakukan tes saja," kata Mu'ti.

Suasana Aceh Tamiang pascabanjir bandang dan longsor pada Selasa (9/12/2025). Foto: Fadjar Hadi/kumparan

Sekum Muhammadiyah ini memberikan solusi untuk kepada guru. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh sekolah yang hancur imbas banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

"Nanti guru-guru kan punya data, nilai-nilai dikumpulkan selama 1 semester jadi bagian dari nilai yang nanti bisa di-insert, dimasukkan ke rapot," kata Mu'ti.

"Kalau nanti tidak memungkinkan diselenggarakan tes akhir tidak usah dipaksa karena situasinya darurat yang penting anak semangat memiliki motivasi tinggi untuk belajar," tutup dia.