Muzdalifah dan Mina, Tempat yang Tak Hanya untuk Bermalam Bagi Jemaah Haji
·waktu baca 3 menit

Muzdalifah dan Mina menjadi tempat yang dituju jemaah haji setelah dari Arafah. Jemaah akan mabit atau bermalam di Muzdalifah dan Mina pada 10 zulhijjah sampai 13 zulhijjah di setiap musim haji.
Musytasyar Dini PPIH Arab Saudi, M. Ulinnuha, mengungkapkan mabit di Muzdalifah menjadi salah satu rangkaian wajib haji. Aktivitas tersebut dilakukan setelah jemaah menunaikan wukuf di Arafah.
"Pada Kamis, 5 Juni 2025 atau 9 Zulhijjah, jemaah haji akan wukuf di Arafah. Kemudian malam tanggal 10 Zulhijjah, seluruh jemaah akan bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit (menginap)," kata Ulinnuha melalui keterangan tertulis, Rabu (4/6).
Ulinnuha menjelaskan Muzdalifah bermakna al-Izdilaf yang artinya ijtima’, yaitu berkumpul. Sementara apabila dilihat dari aspek sejarah, Muzdalifah adalah tempat bertemu dan berkumpulnya Siti Hawa dan Nabi Adam setelah sekian ratus tahun terpisah.
Dalam perkembangannya, peristiwa itu kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji. “Ini berdasarkan firman Allah SWT dan apa yang ditunaikan oleh Rasulullah SAW ketika menunaikan haji wada'," terang Ulinnuha.
Ulinnuha menuturkan pada saat Nabi Muhammad SAW sampai di Muzdalifah, Bilal bin Rabah diminta untuk melantunkan azan. Lalu, Rasulullah melakukan salat jama, magrib dan isya.
Ulinnuha mengungkapkan sejak saat itu berdasarkan pandangan mayoritas ulama, mabit di Muzdalifah menjadi wajib. Sehingga jemaah yang tidak melakukannya wajib membayar dam.
Tak hanya sekadar menginap, jemaah haji selama di Muzdalifah diimbau untuk banyak berzikir dan menyiapkan kerikil untuk lontar jumrah di Mina.
“Walaupun secara teknik, kerikil ini sudah disediakan oleh syarikah, namun tidak ada salahnya apabila jemaah mengambil kerikil di Muzdalifah untuk mengikuti sunah rasul," ujar Ulinnuha.
Waktu mabit Muzdalifah ini adalah malam 10 Zulhijjah sampai tengah malam menjelang subuh.
"Namun secara teknik pergerakan, nanti akan diatur oleh pemerintah sesuai dengan jadwal dari syarikah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pergerakan jemaah," ujar Ulinnuha.
Bergerak ke Mina
Setelah seluruh jemaah selesai di Arafah, maka mereka akan bergerak ke Mina.
Ulinnuha menjelaskan Mina secara bahasa disebut juga sebagai 'muna' artinya harapan. Semua harapan ditumpahkan jemaah haji kepada Allah.
"Di Mina, kita bermunajat kepada Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu,' kata Ulinnuha.
Saat sampai di Mina, jemaah haji melakukan lempar jumroh aqobah pada tanggal 10 Zulhijjah dengan 7 lemparan. Setelah melakukan jumrah aqabah, maka jemaah haji sudah boleh melakukan tahalul awal dengan bercukur.
Setelah tahalul, jemaah lalu berpakaian biasa dan terbebas dari larangan ihram, kecuali bersetubuh dengan pasangan suami atau istrinya.
Jemaah ke tenda Mina untuk melakukan mabit pada malam 11 dan 12 Zulhijjah untuk Nafar awal, dan berlanjut untuk malam 13 untuk Nafar tsani.
Tanggal 11 dan 12 Zulhijjah, jemaah haji yang mengambil Nafar awal, melakukan lontar jumrah ula, wustho dan aqabah, masing-masing 7 lemparan dengan kerikil yang diambil dari Muzdalifah. Sementara jemaah haji yang mengambil Nafar tsani melakukan jumrah ula, wustho dan aqobah pada tanggal 13 Zulhijjah.
"Setelah semua mabit dan jamarat selesai, maka jemaah akan kembali ke hotel masing-masing di Makkah," tutur Ulinnuha.
