Nadiah Kenang Perjuangan Melahirkan Saat Gempa dan Tsunami Aceh

kumparanNEWSverified-green

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Rijal menunjukkan fotonya saat masih kecil. Foto:  Zuhri Noviandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rijal menunjukkan fotonya saat masih kecil. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Hari ini tepat 15 tahun yang lalu, Nadiah (55) mengandung seorang bayi lelaki. Kehamilannya telah memasuki usia sembilan bulan. Hanya tinggal menunggu waktu, menanti sang buah hati terlahir dari rahimnya.

Lindu mengguncang Minggu pagi Desa Lambadeuk, Peukan Bada, Aceh Besar. Masyarakat berhamburan ke atas badan jalan. Lantunan zikir dan ayat-ayat Tuhan mengalir dari bibir mereka.

Melihat itu Nadiah linglung. Ia bersama dengan empat putranya dan seorang bayi di dalam kandungan, ikut berlari keluar rumah dan berkumpul bersama warga. Nadiah semakin cemas dan panik, di saat guncangan gempa berkekuatan 9,2 magnitudo itu, sang suami tidak berada di sisi mereka.

Suaminya Razali (70) bertugas sebagai piket ronda malam, sementara Nadiah dan anak-anaknya menginap di rumah orang tua mereka. Sepulang ngeronda, Razali tak langsung kembali ke rumah. Dia pergi ke Desa Lamteungoh, berkumpul dengan teman-temannya para nelayan di sana.

Saat gempa menggoyangkan pagi 24 Desember 2004, Razali dan teman-temanya tengah menikmati kopi dan ngobrol seputar pekerjaan. Setelah gempa berakhir, Razali langsung bergegas kembali untuk melihat keluarganya.

Usai bertemu dan memastikan keluarganya dalam keadaan aman. Razali kemudian pulang ke rumah di Desa Lamguron, yang hanya terpaut beberapa meter dari rumah orangtuanya di Desa Lambadeuk. Kedua desa ini hanya berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai.

Muhammad Rijal bersama ayahnya. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Dari dalam rumah, Razali tiba-tiba mendengar suara gemuruh layaknya helikopter hendak mendarat. Namun, ia tidak peduli dengan suara tersebut, mengingat Aceh pada saat itu masih dalam suasana konflik. Setelah mengecek kondisi rumahnya, Razali keluar menuju ke tepi jalan dan menghadap ke arah laut.

Razali melihat ada yang aneh. Keningnya mengerut, matanya berusaha mengintip, sesuatu bergerak dengan cepat menuju ke arahnya. Semakin lama ia perhatikan semakin mendekat. Razali mulai takut setelah sadar itu adalah gelombang air laut dan perlahan menuju ke daratan.

Muhammad Rijal saat beraktivitas. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Dari kejauhan Nadiah bersama anaknya yang tadi masih berada di atas jalan, melihat suaminya berlari kencang menuju ke arah mereka. Sembari berteriak mengucapkan 'air laut naik'.

Nadiah semakin takut. Dengan kondisi perutnya yang hamil, ia dan anak-anak tidak diizinkan untuk kembali ke rumah. Hanya berbekal baju di badan, Razali langsung menarik tangan sang istri dan keempat putranya. Mereka berlari bersama warga menuju ke atas perbukitan kawasan desa setempat.

Perjuangan Nadiah

Muhammad Rijal bersama ibunya. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Di balik kerumunan warga yang juga berlari menyelamatkan diri, Nadiah berusaha tetap kuat. Bayi yang ada di dalam perutnya ikut mendaki bersama mencari lokasi paling aman. Di ketinggian sekitar 15 meter, air sempat menyentuh kaki, dan pada saat itu Nadiah mengeluh akibat kelelahan.

Razali yang terus berada di samping istrinya tak pernah melepaskan tangan Nadiah. Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB sore, dengan kondisi lapar dan haus mereka masih tetap berusaha terus mendaki. Razali dan keluarganya baru tiba di atas bukit saat langit mulai gelap.

“Dalam kondisi hamil itu, saya lari dari desa dan mendaki menuju ke atas bukit. Jaraknya lumayan jauh, karena kami mendaki sampai ke ujung bukit di Desa Lamguron. Mungkin karena situasi takut jadi kuat sendiri. Alhamdulillah kehendak Tuhan, saya kuat tidak kenapa-kenapa begitu juga dengan bayi di dalam perut,” cerita Nadiah pada kumparan.

Perut Nadiah mulai terasa sakit saat menjelang magrib. Suaminya bingung, pikirannya kosong, ia tidak tahu harus mencari bantuan ke mana jika istrinya melahirkan. Razali juga khawatir dan takut, ketika sang bayi lahir akan dibalut menggunakan kain apa, sementara mereka tidak memiliki apa pun selain baju di badan.

“Pikiran saya waktu itu, jika anak saya lahir bagaimana. Apakah dia akan terus telanjang hingga selamat,” kata Razali.

Tanpa berpikir panjang, sang ayah yang berharap malaikat kecilnya lahir dengan selamat. Nekat turun bukit untuk mencari sesuatu bekal yang bisa digunakan. Dari puing-puing reruntuhan yang hanyut dalam cengkeraman tsunami.

Razali menemukan sehelai kain penutup jendela dan plastik. Kemudian ia langsung kembali naik ke atas bukit. Hanya selang beberapa menit setelah dirinya kembali, di balik semak-semak hutan tersebut, usai azan magrib, sang istri akhirnya melahirkan seorang bayi lelaki dengan selamat.

Proses persalinan Nadiah berlangsung tanpa bantuan seorang bidan. Kain penutup jendela di tangan Razali langsung digunakan untuk membalut sang bayi. Bersama dengan Nadiah, bayinya lalu dibentangkan di atas plastik yang dijadikan alas untuk mereka tidur.

“Proses kelahirannya langsung di balik semak-semak atas bukit itu. Tidak ada keluhan apa-apa, bayinya sehat bahkan jarang menangis. Orang mengira seperti tidak ada anak bayi bersama kami. Saya bungkus dalam kain tidak menangis. Cuma kasih asi, tidak mau minum susu dan juga nasi,” kenang Nadiah.

Muhammad Rijal bersama ibunya. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Keluarga Razali, termasuk bayinya yang baru lahir tersebut, bertahan hidup selama tiga hari di atas bukit. Mereka bertahan berkat bekal makanan yang ditemukan Razali di balik puing-puing dan lumpur bekas gelombang tsunami.

“Setelah melahirkan, berada di hutan selama tiga hari tiga malam. Kondisi bayi alhamdulillah sehat. Kalau enggak salah saya, kami sekeluarga waktu itu baru turun ke kampung pada hari Rabu,” ujar Razali.

Setelah turun dari bukit, Razali melihat kondisi perkampungannya telah rata dengan tanah. Seluruh rumah warga habis dilumat tsunami. Pada saat itu, Razali dan keluarganya tinggal di bawah tenda tempat pengungsian. Rumah mereka terhempas gelombang tsunami.

“Bantuan kesehatan hingga kebutuhan stok makanan baru dirasakan warga setelah relawan mulai berdatangan masuk lima hari pasca-peristiwa tersebut,” katanya.

Razali dan keluarganya masih menetap di Desa Lambadeuk. Mereka menempati rumah bantuan tsunami. Keluarga Razali kini mulai bangkit. Ia kembali beraktivitas seperti dulu kala sebagai seorang nelayan.

Trauma akibat peristiwa gempa dan tsunami telah lama pulih dari ingatan mereka. Dari kelima anaknya, dua di antaranya telah menikah. Razali dan Nadiah kini telah memiliki dua orang cucu.

Muhammad Tsunami

Muhammad Rijal bersama ibu dan ayahnya menunjukkan ijasah. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Muhammad Rijal (15) baru saja pulang dari tukang pangkas saat kumparan tiba di rumahnya, Minggu 22 Desember 2019. Siang itu, ia harus kelihatan rapi karena akan mengikuti perayaan maulid. Sebelum berangkat, Rijal lebih dulu membantu ayahnya yang tengah merajut jaring ikan di beranda depan rumah.

15 tahun lalu Rijal yang lahir dari rahim Nadiah, perlahan tumbuh beranjak remaja. Kini ia telah duduk di bangku kelas satu SMA Peukan Bada, Aceh Besar. Selain sekolah, kegiatan sehari-harinya menimba ilmu pendidikan agama di pesantren tak jauh dari rumahnya.

Muhammad Rijal sempat menyandang nama Muhammad Tsunami. Nama itu diberikan oleh relawan asing yang membantu keluarganya pasca-peristiwa gempa dan tsunami. Namun, tidak bertahan lama, keluarga memutuskan untuk tidak memakai nama tersebut. Kedua orangtuanya sepakat tidak ingin larut dalam kesedihan, mengingat bencana alam itu dengan memakai nama tsunami.

Rijal tidak pernah mengetahui tentang dirinya yang lahir saat gempa dan tsunami Aceh 2004 silam. Kedua orangtuanya enggan menceritakan tentang proses kelahirannya 15 tahun lalu. Kisah tentang dirinya, baru diketahui Rijal saat ia mulai duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Cerita itu ia dapatkan dari orang-orang di kampungnya.

“Ayah dan ibu tidak pernah cerita. Tahunya dari orang-orang kampung, mereka bilang saya lahir dulu waktu tsunami,” katanya.

Mengetahui tentang kisahnya, Rijal mengaku senang karena dirinya lahir dalam sejarah. Tak hanya itu, ia bersyukur seluruh keluarganya selamat dari bencana alam tersebut. Rijal berharap bencana serupa tidak pernah terjadi lagi di tanah Aceh.

“Cuma ngaji di dayah (pesantren) sama bantu orangtua aja,” ujarnya.

Ijasah milik Muhammad Rijal. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Rijal merupakan sosok remaja pendiam. Dia tidak banyak bicara dan bermain layaknya anak-anak lain. Sehari-hari Rijal menghabiskan waktunya di pesantren dan membantu orangtua. Sang Ayah bekerja sebagai seorang nelayan, sementara ibu hanya ibu rumah tangga.

Namun demikian, sejak SMP hingga SMA Rijal selalu terpilih menjadi anggota Paskibraka. Bahkan kelak dewasa nanti, ia bercita-cita ingin menjadi seorang anggota TNI.

“Suka aja jadi TNI. Gagah dan disiplin. Suka karena membela negara, dan juga ingin mengubah nasib orangtua,” katanya.

Muhammad Rijal bersama ibu dan ayahnya. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Meski tidak pernah melihat dan merasakan peristiwa gempa dan tsunami 15 tahun lalu. Rijal mengaku, dirinya mengetahui tentang pendidikan siaga bencana. Ilmu itu dipelajari di sekolah ketika diadakan kegiatan simulasi bencana. Rijal mengerti apa yang harus dilakukan jika suatu saat gempa dan tsunami terulang kembali.

“Di rumah sekolah sering diberikan pemahaman siaga bencana. Terkadang kami latihan bersama dengan anggota PMI, seperti simulasi siaga bencana,” pungkasnya.