Naik Hercules, 80 Warga Terdampak Banjir-Longsor di Aceh Tiba di Medan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rohani (56), warga Aceh saat ditemui di Lanud Soewando, Medan, Selasa (2/12/2025). Foto: Amar Marpaung/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rohani (56), warga Aceh saat ditemui di Lanud Soewando, Medan, Selasa (2/12/2025). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam beberapa hari terakhir membuat banyak warga terpaksa mengungsi. Sebanyak 80 warga terdampak dievakuasi menggunakan pesawat Hercules dan mendarat di Lanud Soewondo, Medan, Selasa (2/12).

Salah satu warga terdampak di Pidie, Rohani (56), mengatakan rumahnya terendam dan wilayahnya terisolir selama seminggu. Ia mengaku baru bisa keluar setelah adanya bantuan transportasi dari pesawat Hercules.

"Jadi jembatan-jembatan banyak yang runtuh semua, kami enggak bisa ke mana-mana. Untung ada bantuan dari Hercules, pokoknya kami naik lah Hercules ini," kata Rohani saat ditemui di Lanud Soewondo.

Rohani menuturkan, di Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, tidak tersedia penerbangan pesawat komersil menuju Banda Aceh.

Karena itu, ia dan warga lainnya yang ingin ke Banda Aceh perlu transit ke Medan terlebih dahulu memanfaatkan tumpangan Hercules.

"Karena langsung ke Banda Aceh tidak ada pesawat, makanya ke sini dulu (Medan)," ucapnya.

Adit (36), warga Aceh saat ditemui di Lanud Soewando, Medan, Selasa (2/12/2025). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Para pengungsi tersebut menumpang pesawat Hercules yang berada di Bandara Rembele, Bener Meriah.

Adit (36), warga Banda Aceh yang juga terdampak bencana, mengatakan mereka mendapatkan tumpangan setelah mengantre cukup lama di bandara.

"Iya (ada tumpangan), jadi kami antre di bandara, kalau ada pesawat Hercules. Kalau mereka mengizinkan kita naik. Saya sudah kemarin ngeceknya, baru dapat hari ini, pagi ini kita baru dapat akses ke Hercules," ujar Adit.

Ilustrasi pesawat Hercules. Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Setibanya di Medan, para pengungsi hanya transit untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kampung halamannya masing-masing.

"Saya ke Banda Aceh. (Jalur darat) belum tahu," imbuh Adit.

Adit berharap pemerintah lebih sigap dalam menangani situasi bencana yang terjadi. Menurutnya, warga sangat membutuhkan bantuan cepat, terutama mereka yang tinggal di wilayah terisolir.

"Kami sudah merasakan di sana, di sana sangat membutuhkan bantuan. Banyak desa-desa yang terisolir, karena di sana desanya di gunung-gunung," pungkasnya.