kumparan
4 Mei 2018 12:08

Nama Anak Perempuan di Yogya ini Unik: Assalamualaikum Poetry Cantikku

Pemilik nama Assalamualikum Poetry Cantikku
Pemilik nama Assalamualaikum Poetry Cantikku. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Banyak orang tua memberi nama anak dengan beragam bahasa mulai dari bahasa Arab, bahasa Jawa, hingga Eropa. Namun tak sekadar ragam bahasa, nama yang mereka berikan juga sarat makna.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dilakukan oleh Rina Riawati (34) dan almarhum suaminya Buchori Ali Marsono. Mereka memberikan nama untuk anak kedua mereka dengan nama Assalamualaikum Poetry Cantikku.
Asa, panggilan akrab Assalamualaikum Poetry Cantikku, lahir pada 2007. Makna pemberian nama itu sebagai bentuk harapan dan doa agar anaknya selalu diberi keselamatan.
Sementara Poetry memiliki dua makna, selain bisa diartikan perempuan, nama tersebut juga melambangkan kegemaran mereka akan puisi. Sedangkan kata Cantikku bermakna cantik menurut orang tuanya, sehingga tidak ada kesan nama tersebut terlalu berat.
"Nama belakangnya kan ada ku, jadi untuk orang tua," ujar Rina kepada wartawan di kediamannya di Perumahan Citra Ringin, Purwomartani, Yogyakarta.
Selain anak kedua, ternyata nama anak pertama dan ketiga pasangan yang menikah pada 2003 ini juga unik. Pada tahun 2004 Rina melahirkan seorang putri cantik yang dinamai Al Fatikha Poetry Cahaya Mentariku.
Rina bersama anak kedua dan ketiganya.
Rina bersama anak kedua dan ketiganya. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Perempuan yang tinggal di Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, ini mengisahkan nama anak pertamanya itu. Nama depan Al Fatikha sengaja mereka ambil dari surat pertama Alquran. Sementara Poetry maknanya sama dengan anak keduanya itu.
ADVERTISEMENT
"Cahaya Mentariku artinya bisa menjadi cahaya yang bersinar dalam keadaan apapun," kisah Rina.
Anak ketiga juga punya nama unik. Putra yang lahir pada September 2009 tersebut diberi nama Rhazes Bismillah Lakilakiku. Nama tersebut terinspirasi dari dokter ilmuwan dari Arab.
"Rhazes itu kami ambil dari nama seorang dokter ilmuwan Arab, lalu Bismillah adalah doa. Sementara, Lakilakiku ya karena dia anak laki-laki kami," jelasnya.
Rhazes Bismillah Lakilakiku
Rhazes Bismillah Lakilakiku. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Rina bercerita selain banyak orang yang heran mendengar nama unik anaknya, ketika di Disdukcapil beberapa orang juga memuji namanya. "Ini nanti kasihan anaknya waktu ujian, panjang namanya," ujar Rina menirukan perkataan orang-orang kala itu.
Video
Menjadi Tulang Punggung
Pada 2016 lalu, Rina dan ketiga buah hatinya harus menerima kenyataan ditinggal Buchori selama-lamanya akibat kanker dinding perut. Praktis Rina harus menjadi tulang punggung keluarga.
ADVERTISEMENT
"Padahal beliau tidak merokok," ujar Rina.
Sang suami yang akrab disapa Putut Buchori itu merupakan seorang seniman teater. Alumni ISI Yogyakarta itu, semasa hidupnya sering mentas dan mengajar teater di sejumlah sekolah hingga kampus.
Ibarat buah tidak jatuh dari pohonnya, ketiga buah hatinya pun memiliki bakat di bidang seni. Al, putri pertama yang tengah menempuh pendidikan di pondok Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, ini hobi fotografi. Asa putri keduanya hobi literasi. Sedangkan Rhazes memiliki hobi bermusik.
Di kesempatan yang sama, Asa bercerita bahwa dia tidak pernah diejek oleh temannya karena namanya yang unik. Asa bahkan bangga dengan nama pemberian orang tuanya.
Asa begitu gemar membaca. Cita-citanya ingin menjadi pramugari.
"Cita-cita saya pramugari," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Sementara Rhazes yang saat ini duduk di kelas 2 SD selama ini gemar bermain jimbe. Ketika ditanya cita-citanya, Rhazes pun mengaku ingin menjadi anggota TNI. "Pingin jadi TNI AU," katanya.
Meski menjadi orang tua tunggal dengan tiga anak yang masih kecil, Rina tidak pernah mengeluh. Dia tetap semangat berjuang untuk anak-anaknya. Dia berjualan secara daring mulai dari jilbab, kaos kaki hingga aksesoris lainnya.
Rina bersama anak kedua dan ketiganya.
Rina bersama anak kedua dan ketiganya. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan