Napi Lapas Tangerang Bikin Beton dari Limbah Batu Bara: Pasok ke Banyak Industri
·waktu baca 4 menit

Sebanyak 72 warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang terlibat dalam program produksi material konstruksi berbahan limbah pembakaran batu bara, Jawara Beton. Program tersebut menghasilkan ratusan ribu produk beton setiap bulan, mulai dari paving block hingga bataton.
Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, mengatakan program itu bermula dari inisiasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama PLN untuk memanfaatkan limbah pembakaran batu bara PLTU menjadi produk bernilai ekonomi.
“Ini inisiasi awalnya dari Pak Menteri bertemu dengan Dirut PLN. Mereka punya sumber limbah pembakaran batu bara di PLTU, lalu kita manfaatkan menjadi produk konstruksi yang bernilai ekonomi,” kata Beni saat jumpa pers di Lapas Kelas I Tangerang, Selasa (26/5).
Melalui workshop tersebut, warga binaan memproduksi berbagai produk konstruksi seperti paving block, bataton press, modul rumah, u-ditch, tetrapod atau pemecah ombak, pagar panel precast, hingga roster.
Dalam sebulan, produksi yang dihasilkan mencapai ratusan ribu unit. Lapas memanfaatkan sekitar 273 ton limbah per bulan sebagai bahan baku.
Untuk paving block, kapasitas produksinya mencapai sekitar 220 ribu keping per bulan atau setara 5 ribu meter persegi. Sementara bataton press diproduksi hingga 90 ribu keping per bulan atau sekitar 3 ribu unit per hari.
Adapun modul rumah ditargetkan mampu memproduksi 20 unit rumah tipe 36 per bulan.
“Jadi satu bulan itu campuran produknya bisa ratusan ribu,” ujar Beni.
Produk Jawara Beton juga mulai digunakan sejumlah pihak. Bataton press telah dipakai untuk proyek di Summarecon Bekasi, sementara modul rumah digunakan untuk rumah ASN di kawasan Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
Selain itu, produk tetrapod juga mulai dilirik oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “KKP sudah tertarik dengan produk pemecah ombak, terutama yang ukuran dua ton. Bulan depan kami mulai produksi yang besar,” katanya.
Meski dijual sekitar 10 persen lebih murah dibanding harga pasaran karena berbahan limbah, Beni memastikan kualitas produk tetap bersaing.
Untuk paving block, kualitas beton yang dihasilkan mencapai K-300 dan secara rutin diuji di Laboratorium WIKA.
“Jadi sudah bisa berdaya saing dengan produk-produk di luar. Kita tes kekuatannya rutin,” ucap Beni.
Dari total sekitar 1.500 warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang, sebanyak 72 orang dipilih untuk mengikuti program tersebut.
Pemilihannya dilakukan melalui asesmen minat, kemudian seleksi ulang dan pelatihan teknis.
Para peserta mendapat pelatihan dari PLN, WIKA, hingga HSP Academy mulai dari proses pencampuran bahan, curing, hingga treatment produk beton. Selain itu, diterapkan sistem training of trainers (TOT) bagi warga binaan senior untuk dapat melatih peserta baru.
“Yang pertama asesmen minat, lalu diseleksi lagi. Setelah itu dilatih dan ada TOT dari warga binaan yang sudah punya keahlian,” kata Beni.
Selain pelatihan, warga binaan juga mendapat premi produksi. Untuk produksi paving block, premi diberikan Rp 2 ribu per tray yang dihasilkan.
Sebanyak 50 persen premi dapat langsung diambil, sementara sisanya ditabung melalui Bank BRI.
Salah satu warga binaan yang mengikuti program itu ialah Serbo atau Abu (37). Ia telah bergabung dalam program Jawara Beton selama enam bulan dan bertugas di bagian pembesian.
“Tugas saya merakit pembesian sekaligus membuat rangka buat coran beton,” ujar Abu.
Pria yang telah menjalani masa pidana selama 12 tahun itu mengatakan program tersebut membuat warga binaan lebih produktif dan tidak jenuh menjalani masa pembinaan.
“Jadi warga binaannya enggak jenuh karena ada kegiatan,” katanya.
Abu mengaku mendapat premi sekitar Rp 800 ribu per bulan. Separuh diterima tunai dan sebagian lainnya ditabung.
Selama enam bulan mengikuti program, tabungannya kini telah mencapai sekitar Rp 2 juta.
“Nanti kalau bebas buat modal usaha,” kata Abu yang direncanakan akan bebas tahun depan.
Sebelumnya, Abu mengikuti kegiatan pertanian di dalam lapas. Namun kini ia memilih bertahan di program pembesian karena dinilai lebih aktif.
“Kalau di sini lebih banyak kesibukannya,” ujarnya.
Ia juga menilai penggunaan beton pracetak dalam program Jawara Beton membuat proses pembangunan lebih cepat.
“Kalau yang biasanya seminggu, pakai ini tiga hari tiang-tiangnya sudah berdiri,” tuturnya.
