NasDem Jadi Rebutan Parpol untuk Koalisi 2024, Ini Sederet Alasannya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh saat silaturahmi di DPP Golkar, Jakarta, Senin (9/3). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh saat silaturahmi di DPP Golkar, Jakarta, Senin (9/3). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Sejumlah parpol besar hingga menengah belakangan ini kerap menyambangi Surya Paloh di NasDem Tower untuk bersilaturahmi jelang 2024. Mulai dari Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hingga Presiden PKS Ahmad Syaikhu.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menilai tak heran apabila Paloh nampak jadi rebutan rekan koalisi jelang 2024. Menurut Ujang, NasDem menjadi incaran karena kekuatan Surya Paloh dan sepak terjangnya pada Pemilu 2019.

"Bagaimana pun NasDem punya kekuatan 10% di parlemen. Artinya sesuai ketentuan NasDem akan jadi rebutan. Karena punya 10% itu, [juga] jadi partai pemenang di Pemilu 2019 keempat. Jangan lupa Pak Surya punya media," kata Ujang kepada kumparan, Kamis (23/6).

"Media itu luar biasa besar, bisa jadi alat kampanye, katakanlah propaganda bagi siapa pun capres-cawapresnya. Pak Jokowi 2014-2019, dengan kekuatan medianya Pak Paloh, dibantu untuk bisa menang," imbuh dia.

kumparan post embed

Lebih lanjut, Ujang menilai parpol besar lain seperti PDIP dan Golkar sudah memiliki poros sendiri terkail Pilpres 2024. PDIP bisa mengusung capres-cawapres sendiri maupun koalisi karena memenuhi syarat presidential threshold (PT) 20%.

Sementara Golkar telah membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dengan PPP dan PAN.

"Ya, kalau Bu Mega, kan, sudah punya tiket. Dianggap sulit berkoalisi. Kalau Pak Airlangga, kan, Golkar sudah tentukan pilihan dengan KIB. Jadi partai-partai itu cari NasDem atau partai yang belum berkoalisi. Saya lihatnya seperti itu," terangnya.

"Dan jangan aneh jika NasDem jadi rebutan. Karena NasDem hingga saat ini dia belum mengikat koalisi dengan siapa pun. Ini yang dicari partai-partai lain. Makanya banyak didatangi ajak NasDem koalisi," tambah dia.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di acara Rakorsus Partai NasDem di Makassar, Sabtu (25/1). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan

Di sisi lain, Ujang memandang NasDem paling mungkin akan memilih Anies Baswedan sebagai capres di antara rekomendasi bakal capres NasDem yang diputuskan dalam Rakernas. Sebab, Andika Perkasa saat ini masih fokus sebagai Panglima TNI, sementara Ganjar Pranowo adalah kader PDIP.

Menurut dia, mengusung Anies juga merupakan strategi NasDem untuk menaikkan elektabilitas.

"Kelihatannya ke arah sana. Anies jadi suatu figur yang bisa kerja sama untuk dongkrak elektabilitas NasDem. Emang ada Andika dan Ganjar. Tapi Anies lah yang bisa naikkan elektabilitas NasDem," ujarnya.

"Karena Ganjar, kan, masih punya partai sendiri dan Andika masih aktif tentara. Jadi yang memungkinkan bisa menaikan elektabilitas NasDem, ya, Anies. Sinergi dengan Anies hal positif bagi NasDem," pungkasnya.