Nasib Restoran Milik Petani yang Kais Rezeki dari Pariwisata di Jatiluwih Bali

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis (4/12).

Itu adalah sikap mereka usai ada penyegelan sawah, protes dengan cara menutup pemandangan garis melengkung di sawah yang lahir dari tangan mereka.

Pemandangan sawah Jatiluwih ini menjadi salah satu destinasi populer bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Subak Jatiluwih bahkan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) oleh UNESCO pada 2012.

Jauh sebelum itu, para petani melebarkan sayap untuk mencari nafkah dengan membangun sejumlah restoran guna mendukung sarana dan prasarana wisata. Sayangnya, status UNESCO itu kini terancam karena pembangunan yang tidak terkendali.

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Perwakilan petani sekaligus Pengelola Restoran Gong Jatiluwih, Agus Pamuji Wardana, mengatakan pemasangan seng dan plastik merupakan bentuk protes kepada pemerintah yang menyegel 13 restoran milik warga atau petani.

Beberapa alasan penyegelan adalah kawasan subak Jatiluwih masuk zona hijau sehingga tidak boleh ada pembangunan, serta kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO.

Menurutnya, sebagian besar petani tidak mengetahui bahwa kawasan Jatiluwih ditetapkan sebagai zona hijau. Mereka telah hidup puluhan tahun di kawasan itu.

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Selain itu, penyegelan restoran dilakukan secara sepihak oleh Pansus TRAP DPRD Bali dan Satpol PP, tanpa adanya surat pemberian penyegelan.

“Pemerintah menganggap bahwa itu adalah warisan budaya dunia. Sebenarnya yang merusak karena ada daerah pariwisata ini. Kita membuat karena di sana butuh faktor penunjang pariwisata. Kalau dianggap usaha petani merusak lingkungan, lebih baik pariwisatanya nggak ada di Jatiluwih.”

“Jadi mereka memasang seng agar terlihat. Selama ini kan yang dinikmati pemandangannya. Mereka ingin mengganggu pemandangannya,” katanya di Kantor Satpol PP Bali, Senin (8/12).

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Berdasarkan data yang dihimpun kumparan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih lebih dari seribu orang per hari. Agus mengaku sebagian besar wisatawan justru tidak mengetahui status Jatiluwih sebagai warisan budaya; mereka datang ingin menikmati pemandangan sawah.

“Kalau saya sendiri, saya nggak berkomentar setuju atau tidak dicabut oleh UNESCO. Tapi sepengetahuan saya, wisatawan ke Jatiluwih itu nggak tahu kalau itu warisan budaya dunia. Mostly mereka tahu pemandangannya bagus, baru kita kasih tahu ada label UNESCO,” sambungnya.

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Agus berharap pemerintah memberikan win-win solution terkait status UNESCO dan penataan ruang di kawasan tersebut. Tidak semua restoran dibangun dalam bentuk bangunan beton.

Ia memberi contoh Restoran Gong Jatiluwih yang dibangun dengan konsep ramah lingkungan atau eco-friendly—ala rumah joglo dari bambu.

Petani berharap wisatawan bisa menikmati pemandangan sawah mereka sekaligus mencicipi makanan yang disediakan anak-cucu mereka. Agus mengaku para petani sekaligus pengusaha juga taat membayar pajak.

“Petani itu karena sawahnya sebagai objek pariwisata, dan mereka mencoba mengais sedikit rezeki dengan membangun lapak di sawahnya sendiri, bukan menyerobot lahan pemerintah.”

“Kita sebenarnya mencari win-win solution. Jadi begini, semua pengusaha di Jatiluwih petani juga. Mereka memiliki lahan di sawah yang notabene objek wisata, dan pengusaha itu lokal semua, nggak ada investor asing,” katanya.

Penjelasan Pansus TRAP Bali

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Pansus TRAP (Tata Ruang, Aset, dan Perizinan) DPRD Bali membeberkan beberapa alasan penyegelan restoran. Pertama, menjaga kawasan subak Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia. Kedua, merespons semakin sempitnya lahan pertanian di Bali.

“Kondisi ini mengancam identitas budaya Bali serta citra Jatiluwih sebagai destinasi sawah terindah yang dicari wisatawan mancanegara,” kata Ketua Pansus TRAP, I Made Supartha, dalam rilisnya.

Ketiga, bangunan yang boleh berdiri di kawasan warisan budaya hanya berukuran 3×6 meter. Keempat, petani tidak boleh mengalihkan lahan, terutama yang masuk dalam lahan sawah yang dilindungi (LSD).

Para petani mendirikan seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Foto: Dok. Istimewa

Supartha mengaku sedang mengkaji solusi bagi petani. Di antaranya penataan kawasan Jatiluwih, mendesain rumah penduduk dengan konsep homestay, dan membangun restoran dengan konsep khas desa yang menampilkan kuliner lokal.

Wisatawan akan dilibatkan dalam atraksi budaya seperti manyi, metekap, nandur, mandi lumpur, menangkap belut, dan trekking di sawah.

Selain itu, pemerintah akan menyalurkan bantuan benih, pupuk, memperhatikan irigasi, pengenaan pajak, asuransi pertanian, dan memperkuat sistem subak agar produksi tetap stabil.

“Bisa saja para pemilik lahan disentuh lewat program pemerintah, misalnya beasiswa pendidikan satu KK satu sarjana,” katanya.