Negara-negara Arab Desak Hamas Terima Two-State Solution dan Serahkan Senjata
·waktu baca 2 menit

Negara-negara Arab, termasuk Qatar, Arab Saudi dan Mesir, mendesak Hamas meletakkan senjata. Mereka turut meminta Hamas menyepakati two-state solution.
Hal itu tertuang pada Deklarasi New York yang menjadi hasil dari pertemuan internasional membahas Gaza yang diinisiasi Prancis dan Arab Saudi. Indonesia juga mengikuti konferensi tingkat tinggi itu, diwakili oleh Wamenlu Arrmanatha Nasir.
Deklarasi itu juga berisi seruan persatuan di Gaza dan Tepi Barat di bawah kendali Otoritas Palestina. Negara-negara Arab mendesak diakhirinya kendali kelompok bersenjata di Gaza dan pelucutan seluruh kemampuan militer Hamas.
Tak hanya Hamas, deklarasi yang disepakati seluruh negara anggota Liga Arab menuntut pelucutan senjata berlaku bagi seluruh milisi bersenjata di Gaza.
“Dalam konteks mengakhiri perang di Gaza, Hamas harus mengakhiri kekuasaannya di Gaza dan menyerahkan persenjataannya kepada Otoritas Palestina, dengan keterlibatan dan dukungan internasional, sejalan dengan tujuan Negara Palestina yang berdaulat dan merdeka,” ujar deklarasi tersebut seperti dikutip dari Fox News.
Israel Harus Berkomitmen
Deklarasi itu turut mendesak agar Israel berkomitmen kepada two-state solution, termasuk kedaulatan Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
"Hanya solusi politik yang dapat mewujudkan perdamaian, keamanan, dan mengakhiri konflik berdarah Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun,” jelas deklarasi tersebut.
Negara-negara Arab juga memastikan di masa depan rakyat Palestina harus hidup berdaulat, layak secara ekonomi serta hidup berdampingan dengan damai dan aman dengan Israel.
Lewat deklarasi tersebut negara Arab juga menyoroti serangan Hamas ke Israel 7 Oktober 2023. Serangan itu dibalas Israel tanpa pandang bulu yang menurut PBB masuk kategori genosida.
“Kami mengutuk serangan yang dilakukan Hamas terhadap warga sipil pada 7 Oktober. Kami juga mengutuk serangan Israel terhadap warga sipil di Gaza dan infrastruktur sipil, pengepungan, dan kelaparan, yang telah mengakibatkan bencana kemanusiaan yang dahsyat dan krisis perlindungan,” papar Deklarasi New York.
