Netanyahu Akui Tentara Israel Hadapi Hari Sulit Akibat Serangan Hamas di Gaza
ยทwaktu baca 2 menit

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa militer melewati hari yang sulit di Gaza pada Rabu (13/12). Saat itu Hamas meluncurkan serangan paling mematikan sejak perang pecah 7 Oktober 2023.
Selama dua bulan perang berlangsung Kementerian Kesehatan di Gaza mengungkap 18 ribu lebih warga tewas. Sedangkan pihak Israel mengungkap serangan Hamas membunuh 1.200 warganya.
Israel setelah gencatan senjata gagal diperpanjang pada awal Desember langsung membombardir Gaza.
Di tengah gempuran Israel, Hamas merespons dengan perlawan sengit. Akibatnya sembilan tentara Israel tewas, termasuk di antaranya pejabat tinggi militer dan komandan batalion.
Melihat kondisi tersebut, Netanyahu tetap akan melanjutkan operasi militer di Gaza demi melenyapkan Hamas. Netanyahu menolak seruan internasional yang meminta gencatan senjata.
"Kami akan melanjutkan ini sampai akhir, tidak ada pertanyaan lagi soal ini," ujar Netanyahu seperti dikutip dari Associated Press.
"Saya katakan peristiwa ini menimbulkan sakit luar biasa dan tekanan internasional. Tidak ada bisa menghentikan kami, kami akan lanjut sampai akhir, sampai menang, tidak kurang," tegas Netanyahu.
Selatan Membara
Israel di samping berperang di utara, sudah memperluas serangan ke selatan sejak dua pekan lalu. Khan Younis menjadi pusat pertempuran di selatan.
Berdasarkan keterangan rumah sakit serta kesaksian warga setempat, serangan Israel di Khan Younis menyasar dua gedung. Akibatnya sejumlah warga lokal tewas termasuk anak-anak, lansia, dan perempuan.
Pertempuran juga pecah di Rafah. 19 warga sipil Rafah kehilangan nyawa akibat serangan Israel. Laporan itu diungkap pihak rumah sakit setempat.
Israel selalu menyatakan akan menghindari korban warga sipil. Terkait banyaknya warga sipil kehilanga nyawa Israel menyalahkan Hamas.
Israel menuduh Hamas bersembunyi di rumah warga. Senjata-senjata Hamas bahkan disembunyikan di berbagai bangunan sipil.
