Netanyahu Jawab Biden: Kebijakan Saya atas Gaza Didukung Mayoritas Warga Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (10/3) menolak komentar Presiden AS Joe Biden yang menyebut pendekatan negaranya terhadap perang di Gaza "lebih merugikan Israel daripada membantu Israel".
Dikutip dari AFP, Netanyahu dalam sebuah wawancara juga membantah data jumlah korban tewas yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Gaza. Ia menyebut, angka tersebut termasuk "setidaknya 13 ribu pejuang teroris" yang dibunuh pasukan Israel.
Netanyahu mengatakan, jika yang dimaksud Biden adalah "bahwa saya menjalankan kebijakan pribadi yang bertentangan dengan mayoritas, keinginan mayoritas warga Israel dan itu merugikan kepentingan Israel, maka dia salah dalam kedua hal tersebut".
Netanyahu mengatakan kepada Politico bahwa "sebagian besar orang bersatu dan memahami apa yang baik bagi Israel".
Ia juga menambahkan bahwa kebijakannya "didukung oleh mayoritas warga Israel" yang mendukung "tindakan yang kami ambil untuk menghancurkan sisa batalion teroris Hamas".
Berdasarkan data Israel, perang Israel-Hamas menewaskan sekitar 1.160 orang yang sebagian besar adalah warga sipil. Sementara dari pihak Gaza, serangan menewaskan sedikitnya 31.045 orang yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Namun, Netanyahu menyebut, jumlah korban sipil "bukan 30 ribu bahkan 20 ribu. Jauh lebih sedikit dari itu". Dia tak menjelaskan lebih lanjut bagaimana angka tersebut diperoleh.
Netanyahu juga mengatakan bahwa warga Israel "mengatakan setelah kita menghancurkan Hamas, hal terakhir yang harus kita lakukan di Gaza, yang bertanggung jawab atas Gaza, otoritas Palestina yang mendidik anak-anaknya terhadap terorisme dan membiayai terorisme".
Sebelumnya, Biden mengatakan bahwa Netanyahu harus lebih memperhatikan hilangnya nyawa warga yang tak berdosa sebagai konsekuensi dari tindakan yang diambil di Gaza. Biden yang selama 5 bulan ini mendukung tindakan Israel di Gaza kini menunjukkan rasa frustrasinya terhadap Netanyahu.
Kegagalan Netanyahu membawa pulang sandera yang masih ditahan militan Hamas telah menyebabkan protes rutin di Israel dan seruan agar pemilu diadakan lebih awal.
