Netanyahu Kecam Film NAZA: Ini Mengejutkan, Tidak Dapat Ditoleransi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jonathan Glazer, Rachel Szor, dan Yuval Abraham menghadiri sesi foto film Naza di Festival Film Internasional Venesia ke-83, Italia, Kamis (10/9/2026). Foto: Stefano Rellandini/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Jonathan Glazer, Rachel Szor, dan Yuval Abraham menghadiri sesi foto film Naza di Festival Film Internasional Venesia ke-83, Italia, Kamis (10/9/2026). Foto: Stefano Rellandini/AFP

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam film dokumenter baru yang menuding kematian massal warga sipil secara rutin diperhitungkan dalam penentuan target serangan Israel di Gaza.

Netanyahu menyebut, film berjudul “NAZA” itu sebagai bagian dari gelombang hasutan global terhadap orang Yahudi.

Film yang disutradarai jurnalis Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor tersebut memenangkan Penghargaan Juri Khusus di Festival Film Venesia pada Sabtu (13/9). Film itu juga mendapat sambutan meriah dengan standing ovation selama 25 menit saat diputar pada Kamis (10/9).

“NAZA” merupakan istilah militer Israel untuk menyebut “korban tambahan” (collateral casualties) yang diperkirakan akan jatuh dalam sebuah serangan.

Film tersebut dibuat berdasarkan wawancara anonim dengan sejumlah petugas intelijen dan tentara yang terlibat dalam perang di Gaza.

“Ini mengejutkan. Kita sedang memerangi hasutan antisemitisme global, dan ketika hal itu datang dari kalangan kita sendiri, itu tidak dapat ditoleransi,” kata Netanyahu dikutip dari Reuters, Selasa (15/9).

“Dan kini, dua sutradara Israel yang menggambarkan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) sebagai penjahat perang justru mendapat tepuk tangan di festival Venesia.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada konferensi pers di kantor Perdana Menteri di Yerusalem pada 10 Agustus 2025. Foto: Abir SULTAN / POOL / AFP

Kepala Militer Israel Sebut Film sebagai Serangan

Pernyataan Netanyahu muncul setelah Kepala Militer Israel Eyal Zamir juga mengecam film tersebut. Ia menyebut “NAZA” sebagai serangan terhadap Israel.

“Berdasarkan apa yang telah dipublikasikan sejauh ini, ini bukanlah film yang melontarkan kritik terhadap IDF, ataupun upaya untuk mengungkap kebenaran. Film ini didasarkan pada fitnah keji (blood libel), distorsi kenyataan yang disengaja, serta tuduhan palsu yang berat terhadap tentara dan komandan IDF,” ujar Zamir.

Militer Israel menyatakan Zamir telah memerintahkan Advokat Jenderal Militer, yang memiliki kewenangan hukum terbatas di lingkungan militer, untuk mengkaji dan menindaklanjuti kemungkinan langkah hukum terhadap film tersebut dan pihak-pihak yang terlibat.

Para pembuat film belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Sementara itu, Abraham membela film tersebut dalam pidato penerimaan penghargaan di Festival Film Venesia pada Sabtu (13/9).

“Kami meyakini bahwa penyangkalan terhadap suatu kejahatan justru melanggengkan kejahatan tersebut; itulah sebabnya sangat penting bagi kami agar warga Israel menonton film ini, karena negara kitalah yang melakukan kejahatan-kejahatan ini,” kata Abraham.

Anak-anak Palestina berkumpul menonton pemutaran kartun terbuka program Little Wings Cinema di kamp pengungsian korban perang Kota Gaza, Sabtu (5/9/2026). Foto: OMAR AL-QATTAA/AFP

Lebih dari 73 Ribu Warga Palestina Tewas

Otoritas kesehatan Gaza menyatakan lebih dari 73.000 warga Palestina, yang sebagian besar merupakan warga sipil, tewas dalam kampanye militer Israel. Serangan tersebut juga menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza hancur.

Perang Gaza bermula setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil.

Israel menyatakan telah berupaya menghindari jatuhnya korban sipil dalam operasi militernya untuk memerangi Hamas. Israel juga menuding militan Hamas bersembunyi di sejumlah lokasi seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat penampungan.

Hamas membantah menggunakan warga sipil Gaza sebagai tameng manusia.