Netanyahu Tolak Berdirinya Negara Palestina setelah Perang Gaza

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memimpin rapat kabinet mingguan di Kementerian Pertahanan di Tel Aviv pada 7 Januari 2024. Foto: Ronen Zvulun / POOL / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memimpin rapat kabinet mingguan di Kementerian Pertahanan di Tel Aviv pada 7 Januari 2024. Foto: Ronen Zvulun / POOL / AFP

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak berdirinya negara Palestina setelah perang di Gaza. Dalam pandangannya, berdirinya negara Palestina membahayakan keamanan Israel.

Netanyahu bahkan telah memberi tahu Amerika Serikat atas keberatannya terkait pendirian negara Palestina. AS merupakan sekutu dekat Zionis.

"Saya perjelas bahwa semua pengaturan terkait masa depan, dengan atau tanpa kesepakatan, Israel harus mengendalikan keamanan di seluruh teritori sebelah barat Sungai Yordan," kata Netanyahu pada Kamis (18/1) seperti dikutip dari Al-Jazeera.

"Ini adalah kondisi yang diperlukan. Ini bertentangan dengan prinsip kedaulatan tapi apa yang bisa kalian perbuat," sambung dia.

Netanyahu yakin meski negara Palestina tidak terbentuk, normalisasi Israel dengan negara-negara Arab lainnya akan tetap terwujud. Israel menginginkan lebih banyak negara Arab yang berdamai dengannya.

Lewat Abraham Accords yang diperantarai oleh Amerika Serikat di masa Donald Trump, Israel berhasil menormalisasi hubungan dengan Bahrain, Uni Emirat Arab, Maroko dam Sudan.

Israel saat ini mencoba normalisasi dengan Arab Saudi. Namun, Saudi menegaskan normalisasi tidak akan terwujud sampai negara Palestina terbentuk.

video youtube embed

Sementara itu, terkait serbuan di Gaza, Netanyahu menegaskan itu akan terus berlanjut sampai Hamas lenyap. Atas kebrutalan Israel di Gaza yang menewaskan puluhan ribu orang, Israel diseret ke Mahkamah Internasional oleh Afrika Selatan.

Berbeda dengan Israel, Menlu AS Antony Blinken menegaskan dukungan kepada pembentukan negara Palestina atau two state solution. Pria pemeluk agama Yahudi itu menyatakan, pembentukan negara Palestina akan membuat kondisi Timur Tengah stabil dan mengisolasi musuh AS, Iran.