New Normal, MRT Jakarta Fokus Kembangkan Bisnis Digital dan Coworking Space

PT MRT Jakarta menjajaki berbagai potensi bisnis lain selain perjalanan Moda Raya Terpadu di masa new normal. Salah-satunya yaitu bisnis coworking space.
Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Syahbandar, coworking space adalah bagian dari inovasi non-tiket (non-farebox) yang dikembangkan untuk menjawab tantangan baru di masa new normal nantinya.
“Kita sedang upayakan beberapa ruangan di stasiun, ini bisa dimanfaatkan. Misalnya di situ ada fasilitas video conference, jadi anda kalau butuh bisa datang ke stasiun MRT, naik MRT tentunya,” ungkap William dalam konferensi pers online, Kamis (11/6).
Dia membeberkan, di masa normal baru, penjualan tiket akan menurun sebab adanya protokol jaga jarak yang membatasi kapasitas angkutan kereta. Karena itu, inovasi bisnis harus hadir agar bisnis MRT Jakarta tetap bisa sehat di masa normal baru.
“Bisnis transportasi publik biasanya selalu bicara berapa jumlah penumpang. Untuk MRT, parameter itu tidak bisa berlaku lagi karena dengan pembatasan tentunya 100 ribu nggak bisa lagi, maksimum 70 ribu,” ucapnya.
Sebagai informasi, di masa sebelum wabah, jumlah harian penumpang MRT Jakarta berkisar sekitar 100 ribu penumpang. Namun saat adanya wabah corona, yang diikuti dengan kebijakan PSBB di Jakarta, jumlah penumpang MRT jatuh ke angka 2.000 penumpang perhari.
Saat ini grafik jumlah penumpang MRT Jakarta mulai naik kembali. Hal ini bersamaan dengan adanya pelonggaran di masa PSBB transisi.
MRT Jakarta telah lama mengembangkan konsep bisnis non-tiket. Langkah itu guna menutupi besaran operasional MRT yang tidak sepenuhnya tercapai melalui penjualan tiket.
Pengembangan bisnis tersebut merupakan bagian dari pengembangan bisnis yang fokus ke media digital.
"Transportasi massal saat ini memasuki business beyond normal, tidak bisa lagi mengukur kesuksesan lewat ridership semata. Salah satu strategi baru kita untuk memacu pendapatan non-farebox, yaitu transaksi retail dari aplikasi kita. Jadi selain QR Code untuk tiket, bisa sebagai alat pembayaran di retail kota,” ungkap William.
Selain itu, melalui media yang sama, MRT Jakarta mengembangkan program pelatihan online bagi start up di Jakarta. Pelatihan ini diharapkan bermuara pada terciptanya produk-produk hasil kolaborasi yang bisa menguntungkan bagi peserta sekaligus bagi pihak MRT Jakarta.
“Jadi ini program sifatnya saling menguntungkan. Sisi teman-teman peserta bisa mengembangkan bisnis menggunakan platform MRT, dan bagi MRT jadi kolaborator dan akan punya dampak dalam pendapatan non-farebox,” jelasnya.
William membeberkan, di masa normal baru, penjualan tiket akan menurun sebab adanya protokol jaga jarak yang membatasi kapasitas angkutan kereta. Karena itu, inovasi bisnis harus hadir agar bisnis MRT Jakarta tetap bisa sehat di masa normal baru.
Menyadari itu, PT MRT menyiapkan berbagai model inovasi bisnis. Selain aplikasi digital, MRT juga tengah mengembangkan bisnis coworking space, guna menjawab tantangan baru di masa new normal nantinya.
“Kita sedang upayakan beberapa ruangan di stasiun, ini bisa dimanfaatkan. Misalnya di situ ada fasilitas video conference, jadi anda kalau butuh bisa datang ke stasiun MRT, naik MRT tentunya,” jelasnya.
Beberapa inovasi lainnya di bidang non tiket juga menjadi fokus PT MRT untuk terus memajukan bisnisnya dan memperluas sumber pendapatan. Di antaranya yaitu naming rights beberapa stasiun yang masih kosong, periklanan di aplikasi, maupun website dan sosial media, transaksi retail cashless, kerja sama pengiriman barang, smart vending machine, dan loker penitipan.
MRT telah mengembangkan bisnis di sektor iklan, ritel, hingga bisnis platform digital berbasis kolaborasi.
MRT juga menyiapkan kawasan-kawasan TOD (Transit Oriented Development) di lima stasiun yaitu Dukuh Atas, Istora Senayan, Blok M, Fatmawati serta Lebak Bulus. Kawasan-kawasan tersebut disiapkan untuk pengembangan properti seperti rumah susun, areal taman dan lain sebagainya.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
