Ngabuburit Sambil Wisata Religi di Masjid Raya Medan

Kota Medan kaya akan tempat wisata yang juga memiliki nilai-nilai sejarah di dalamnya, salah satunya wisata religi. Salah satu ikon wisata religi di Kota Medan adalah Masjid Raya Al Mashun atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Medan.
Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah darii Kesultanan Deli. Setiap harinya, Masjid ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Baik yang ingin melaksanakan salat atau sekedar mengunjungi masjid bersejarah ini.
Sutomo (61) merupakan salah seorang penjaga sekaligus pengurus Masjid Raya Al Mashun Medan mengatakan bahwa biasanya pengunjung lebih banyak datang pada akhir pekan seperti hari Jumat, Sabtu dan Minggu.

Di masjid ini, ada peraturan khusus bagi pengunjungnya. Bagi pengunjung yang tak mengenakan busana muslim, petugas yang berjaga di gerbang masuk akan memberikan kain kerudung dan sarung.
“Nanti bagi yang pakaiannya tidak tertutup akan diberikan selendang ataupun kain sarung untuk masuk ke dalam masjid oleh petugas di depan, karena kalau pengunjung yang tidak berbusana muslim tidak diperbolehkan masuk,” ucap Sutomo kepada kumparan (17/5).
Masjid Raya Al Mashun terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Medan Kota, tepatnya di samping Taman Sri Deli atau berjarak sekitar 100 meter dari Istana Maimun.

Dahulu, di dalam mesjid terdapat sebuah terowongan yang terhubung ke kamar Sultan Deli IX di Istana Maimun. Sutomo pun membenarkannya. Namun sayang, kini terowongan bernilai sejarah itu sudah tiada sejak masa Sultan ke XI, dikarenakan kondisinya yang sudah rusak dan ambruk.
“Dulu masih Sultan yang ke-9 itu terowongan masih ada. Posisinya di tempat bilal imam. Ini kalau Sultan mau ke masjid dari istana melalui terowongan dan kalau sultan pulang ke istana juga melalui trowongan itu,” terang Sutomo.
Masjid Raya Medan ini merupakan peninggalan Sultan Deli IX, Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam yang dibangun pada tahun 1906 dan selesai dibangun pada tahun 1909. Pertama kalinya Masjid Raya Medan ini digunakan pada 19 September 1909 untuk pelaksanaan salat Jumat.

Hingga kini, lanjut Sutomo, dari keseluruhan bangunan masjid tersebut masih asli seperti pertama kali dibangun, hanya kaca jendela saja yang tidak asli atau replika. Bahkan ketika pengecatan kembali, warnanya pun tidak ada yang berganti.
"Warna cat hitam kembali ke hitam, yang hijau tetap ke hijau, tidak ada yang diubah,” imbuh Sutomo.
Gaya arsitektur bangunan Mesjid Raya Al Mashun ini merupakan kombinasi dari Turki, Arab, Eropa dan India yang merupakan buah karya seorang berkebangsaan arsitektur Belanda.
“Tiangnya nya itu dari marmer buatan Italia. Juga tempat imam itu kuningannya dari Amsterdam kalau marmernya dari Italia. Kalau kacanya itu ada yang replika tapi yang kaca bagian atas itu masih asli,” ujar Sutomo.

