Ngobrol Bareng Bima yang Kritik Pemda Lampung, Kenapa Harus 'Dajal'?
·waktu baca 9 menit

Anak muda, terutama Gen Z, punya cara tersendiri dalam mengekspresikan pendapat dan aspirasi mereka di media sosial. Salah satunya dilakukan TikToker Bima Yudho Saputro. Terbaru, dia mengkritik daerah asalnya, Lampung. Lewat video di TikTok, dia membuat konten berjudul 'Rakyat Presentasi'.
Pemilik akun TikTok @Awbimax Reborn itu menyoroti kondisi jalan-jalan di Lampung yang buruk, infrastruktur yang jauh dari memadahi, serta sejumlah proyek yang dia sebut mangkrak.
Usai viral, keluarga Bima di Lampung Timur justru didatangi polisi dan mendapat intimidasi dari Gubernur Lampung. Sekarang, bagaimana kondisi Bima dan apa yang akan dia lakukan ke depannya?
kumparan berkesempatan mewawancarai Bima langsung. Berikut wawancaranya.
Hi, Bima. First of all, apa kabar?
I am good, I am blessed.
Apa sih yang memantik lo buat video mengkritik Lampung? Kan lo lagi study di Australia nih, kok masih sampai kepikiran sama daerah asal lo?
Niche konten gue terutama di TikTok itu tentang education, culture, food, karena gue lagi magang juga di food apps gitu. Banyak yang nge-tag gue karena banyak yang tahu gue itu orang Lampung. Mereka nge-tag tentang jalan rusak, adanya sogok-menyogok di dunia pendidikan.
Sebelum gue buat presentasi itu, gue launching series khusus untuk nyokap bokap gue yang menyinggung tentang dana pendidikan gue yang bakal dikeluarin di 2023-2025, karena gue bakal study di Macquarie Universty. Dibanding private college sekarang, di Mcquarie ini lebih mahal jadi, gue buat presentasi khusus orang tua gue, Sri dan Juli, karena gue kalau di sosmed manggil orang tua gue nama karena kan kita itu bestie ya. Karena seakrab itu. Kemudian gue buat presentasi lainnya lagi, tentang study abroad dan banyak yang mention tentang lampung. Sebelumnya gue juga sempet nyinggung soal Lampung, tapi belum se viral sekarang itu.
Kamu sudah ada ekspektasi video itu akan viral?
Gue sudah ada expectation itu. Gue sengaja sebut provinsi Dajal, karena kalau konotasi itu nggak gue gunakan, gue pakai bahasa yang halus, gak akan sampai ke kuping gubernur sama wakil gubernur itu.
Komentar aja di non-aktif kan apalagi komentar halus gak bakalan sampe gak bakalan se viral ini, so I know hot to hit the trending in Indonesia gue juga kuliahnya ngambil digital marketing dan gue lanjutin di public relation and social media jadi gue ngerti cara menyampaikan hook-hook message ke masyarakat Indonesia harus diantemnya bagaimana gue tau. Orang-orang bilang gue nggak intelek, gue sudah kuliah jauh-jauh nggak guna, guna karena gue bisa seviral ini gue tau strateginya untuk membungkam mulut para pejabat sekarang ini gitu, kalau gue nggak melakukan hal ini gak akan terjadi seviral ini.
Tapi mereka malah jadi salfok ke konotasi 'Dajal'?
Sama sekali gak nangkep poin-poin gue di presentasi itu dan malah fokus sama kata 'Dajal', sekelas mereka gak bisa ngerti konotasi ini bagaimana.
Menurut kamu, kenapa ya kadang orang tua itu kalau dikritik sama anak muda malah suka salah fokus?
Menurut gue karena beda generasi aja sih, beda zaman. Style gue mengkritik dan dia mengkritik gitu gak bisa. Indonesia mau maju itu nunggu mereka yang style-style memerintahnya masih menanamkan sopan santun bla bla bla. Lo sopan santun tapi diam-diam korupsi. alau anak-anak muda sekarang style nya memang blak-blakan, cuma kita jujur. Kita bisa membuat Indonesia lebih baik lagi ke depannya. timbang diam-diam masukin anaknya ke Unila, diam tapi korupsi.
Target utamanya adalah Pemda Lampung biar mereka mendengar kritikan kamu dan para netizen. Lalu, bagaimana reaksi kamu pertama kali tahu video itu mencapai targetnya?
Yes, I am famous. Orang-orang tahu gue, kenal gue, dan bisa terinspirasi dengan gue yang bisa jujur dan speak up tentang negara Indonesia ini. Bisa lebih berani untuk mengungkapkan aspirasi, sebagai warga negara jangan ada yang namanya bungkam membungkam lagi, zaman kapan kan. kita sudah 2023 Indonesia harus maju, Indonesia harus menerima kritikan pedas atau apa pun itu. Di Australia ini kita sudah ngomongin kemanusiaan, di Indonesia ngomongin sopan santun tapi sopan santun apa buat Indonesia maju? buat Indonesia nggak jadi negara korupsi? Buat Indonesia jadi negara bagus, nggak kan? Sopan santun di Indonesia dan UU yang ada di Indonesia ini malah membuat Indonesia jadi negara yang bungkam dan takut untuk mengungkapkan kebenaran. Jadi di sini, yes, ada representasi orang kayak gue, berani blak-blakan. Walau pun sekarang gue tinggalnya di Aussie, kena lo, jadi kayak yeah, gue dapet sebuah sedikit perlindungan ya kan di titik gue berada. Jadi gue masih pretty chill, nyari-nyari takjil di Opera House, dan lain-lain.
Nah, setelah itu kan ada intimidasi dari pemda dan aparat. Bagaimana sih kronologi intimidasi yang kamu dan keluarga dapet?
Jadi itu waktu hari Jumat (14/4) pagi, itu bokap nyokap gue sudah persen kalau Juli (Ayah Bima) akan dipanggil. Gue mengira dipanggil kelompok tani, kan bokap gue PNS di Pertanian di Lampung. Tapi ternyata bukan. Katanya ini persoalan gue, masalah gue. Memang salah apa? Gue merasa gue gak bikin masalah.
Terus nyokap gue didatangi sama kapolsek. Waktu didatangi kapolsek, dimintai keterangan-keterangan dokumen itu, diminta ijazah SD, SMP, SMA, kuliah gue yang lulus dari Malaysia, dari Australia di private college. Nah gue juga kasih offer letter dari McQuarie yang bakal mulai di Juli 2023 itu, kalau bisa mereka minta IELTS certificate gue kasih dah. Mereka juga minta rekening, gak tau gue tujuannya apa, mereka mengecek transaksi itu mungkin. Tapi, kata nyokap gue, diminta keterangan-keterangan ini sampai dimintai detail home address di Aussie itu buat profiling aja kalau gue itu warga Lampung. Elu tau jelas gue warga daerah Lampung Timur kenapa perlu yang namanya profiling? Jadi dugaan kita, keluarga, memang dari awal mereka ingin mengkasuskan, memproses secara hukum.
Bokap gue memang di situ mendapatkan tindakan intimidasi dari gubernur. Pas dipanggil bupati itu bukan ketemu bupatinya dulu, ketemu wakil bupati. Wakil bupatinya ini telepon gubernur dan telponnya dikasih ke bokap gue, bokap gue dibilang gak bisa mendidik anak dimaki-maki intinya dan bokap gue minta maaf. Kata bokap, 'Pak, maaf, kalau misalkan saya tidak bisa mendidik anak dan maafkan juga anak saya.'
Kata Gubernur, 'Ya saya maafkan tetapi proses hukum tetap berjalan.'
Nah di situ gue cerita, gue koar-koar, gue bisa laporan ke mana sih? Gue siapa sih? Gue warga negara biasa aja, gue cuma power dari netizen. Makanya gue lihat-lihat Indonesia ini negara yang berbasis viral, jadi gue laporan ke netizen gue. Cerita gue nangis-nangis, ya karena gue nangis juga telepon bokap gue, bokap gue nyuruh 'sudah diam dulu aja selama 3 bulan ini kan bokap bentar lagi pensiun jadi kamu diam dulu jangan terlalu menggebu-gebu banget ngegas.'
Oh nggak bisa, gue sudah terjun bebas ibaratnya sudah nyemplung kolam ini gue sudah masuk ke palung paling dalam, gak bisa, terusin. Setelah gue viral lagi dan jadi trending di mana-mana, malamnya mereka panik, ketar-ketir, kapolres dari Lampung Timur datang 'silaturahmi' katanya.
Padahal awalnya mereka hanya ingin memproses, di situ ketika dateng mereka bilang, 'oh kami di sini itu mau melindungi, ingin membuat warga kita aman.' No, that's so creepy. Dari awal mereka yang mau mengintimidasi gue, yang melakukan profiling ke gue gitu minta semua data detail ke keluarga gue. Bahkan nggak ada penjelasan dari Humas Kapolda Lampung soal profiling ini tujuannya apa, kalau bukan memproses gue secara hukum.
Sempat update di IG Story tentang bokap yang ditelepon sama gubernur, bahkan sampai kamu nangis di postingan itu. Apa yang sebenarnya kamu pikirin dan membebani sekarang?
Waktu gue nangis, gue bukan nyerah ya, gue cuma kayak takut bokap gue aja keamanannya bagaimana. Jadi lebih feeling keamanan aja sih gitu, gue merasa kalau gue kalah, kalau gue diam, abis ini. Seneng mereka kalau gue diam. Seneng mereka di pemerintah di provinsi gue. Makanya gue nangis itu cuma ya karena keamanan gue aja sih, tapi dari nyokap sendiri si Sri itu dia paling kuat banget, dia kayak, 'sudah biasa gua, biasa aja gak usah nangis, nyantei aja nyantei aja sudah. Santai lo di sana kan juga sudah aman. Kalau lo dikasusin jadi tersangka ambil tuh protection visa.' Ada nyokap yang nenangin, bokap gue yang takut, lah dia PNS, dia kena intimidasi. Bokap gue yang sudah kayak nangis gitu.
Heran, gue merasa gue lebih rileks aja sih. Karena gue lebih plong. Yang nge-back up gue banyak kan, gak perlu khawatir, bahkan sudah didengar dari pihak Istana kan. Memang gue orangnya fragile ya, gue fierce tapi gue fragile kadang kan, ngomongin keluarga gitu. Tapi other than that, gue gak takut sih. Hotman Paris juga sudah yang kayak, 'Oh yaudah hubungin aja gitu.' Belum, lu belum gue hubungin ya Bang Hotman. Kayak yaudah santai aja ini kasus apaan sih, easy ini mah, biasa aja gue mah.
Akhirnya kamu mencetuskan wacana Protection Visa?
Dari awal gue emang ada rencana mau permanent resident (PR) di sini, tapi bukan dengan protection visa tapi through education pathway, karena di sini gue kan dari biaya keluarga gue. Nah, wacana protection visa ini muncul karena bentuk kekecewaan gue sih, karena kayak, lah negara gue gak bisa ngelindungin gue, kalau gue pulang keamanan gue bisa terancam. Kalau gue pulang apakah akan terjadi ancaman buat gue sendiri who knows, karena gue tinggal asli Indonesia dan di Lampung, bisa aja gue dicari-cari, gak tau gitu kan. Makanya, gue sudah konsul sama lawyer di sini.
Tanpa ada protection visa gue pun bisa dapet PR di sini, cuma karena kekecewaan itu, gue bilang aja, ini lho Australia lho mau ngelindungin gue lho, gak malu, lo.
Apakah bakal lanjut speak up meski kena intimidasi?
Gue akan lanjut speak up ya, disclaimer konten gue tidak hanya politik. Gue kocak, lawak, cuma kadang serius juga akademik gitu gue pengin menyampaikan konten-konten di Konoha eh Indonesia, dengan style Gen Z lah. Bisa diterima banyak orang. Banyak yang gue bahas especially study abroad.
Bahas politik karena ada aduan mention dari netizen maka gue bikin, punya followers banyak, kalau bukan gue yang speak up, terus siapa?Orang yang followers seratus gak akan didenger, yang ada dilaporin. Kasihan. Yaudah gue aja yang jadi representative. Kalau kata orang-orang, sudah deh berkorban gue.
Sudah berapa banyak parpol yang approach lo?
Ada 3 hahaha. Gue gak mau ditunggangin orang-orang partai, ada yang approach gue, gue gak mau, mohon maaf.
Pesan buat para penguasa dan pembuat kebijakan, terutama di daerah Lampung?
Untuk Pemda Lampung, Pak Bu, plis jangan antikritik. Sampai detik ini gue melihatnya masih antikritik karena cuma orang-orang yang follow lu aja yang bisa komentar di akun lo. Sekelas gubernur masak iya gak punya tim medsos untuk ngatur? Zaman sekarang 2023 harusnya ada orang mem-filter aspirasi masyarakat, bukan buat ngapusin komentar netizen. Terima aje, masak dibungkam, dihapus, di-block, ada lho yang laporan ke gue bang ini gue di-block bla bla bla, padahal mereka cuma nge-tag KPK, jadi di block.
KPK juga harus mengecek pejabat-pejabat yang ada di Provinsi Lampung. Cek sekarang juga. Gue curiga, gue gak yakin dana dari pemerintah digunakan seadil-adilnya. Harus ada tindakan dari pemerintah pusat sendiri, bukan cuma dari pemerintah daerah.
