Nikah Beda Agama yang Dipermasalahkan di India

Pernikahan beda agama pasangan Hindu-Islam diperkarakan di Pengadilan Tinggi India. Pernikahan dua identitas ini dipermasalahkan karena diduga memiliki keterkaitan dengan ISIS dan dianggap sebagai bentuk penyebaran ideologi ekstremisme. ISIS yang dikenal sebagai kelompok terorisme terbesar saat ini --dan mencatut nama Islam-- menjadi momok yang menakutkan bagi mereka.
National Investigation Agency atau Badan Investigasi Nasional India serta polisi selama lebih dari 28 bulan memeriksa belasan pasangan yang menikah di Kerala, negara bagian di selatan India. Setelah menikah dengan laki-laki muslim, para perempuan Kerala ini kemudian banyak yang pindah agama dari Hindu ke Islam.
Kekhawatiran bermula dari isu "Love Jihad" yang diembuskan oleh organisasi agama garis keras. Kelompok seperti Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) dan beberapa kelompok lain melaporkan adanya tren penyebaran ideologi ekstremisme dengan modus pernikahan antaragama.
Hasil penyelidikan polisi setempat sebenarnya tidak menemukan apa yang ramai diberitakan. Polisi menyatakan isu gerakan terorganisir yang ditakutkan itu adalah kabar bohong semata. Namun, NIA terus melakukan penyelidikan dan mengklaim telah menemukan bukti kuat mengenai penyebaran ideologi radikal.
Selama investigasi, pertanyaan yang sangat personal bahkan ditanyakan kepada para perempuan. Mereka mengajukan pertanyaan seperti, "Apakah kamu tidur dengan suamimu sebelum resmi menikah?" atau "Apakah dia menolakmu jika kamu tidak masuk agamanya?".
Dikutip dari Reuters, dari 89 kasus yang diinvestigasi oleh NIA, ditemukan sembilan kasus diduga terkait dengan orang-orang dan aktivitas ISIS. NIA berencana membawa kasus tersebut beserta bukti-buktinya ke Pengadilan Tinggi. Di antara kasus tersebut terdapat dua kasus yang tengah ditelaah lebih lanjut karena, pertama, ditemukan adanya transaksi keuangan dari sekolah di Irak ke rekening bank si perempuan. Kedua, salah satu pasangan diketahui aktif menyebarkan video propaganda ISIS di wilayah Kerala.
Investigasi ini, menurut partai oposisi, menunjukkan bahwa pemerintah menggunakan organisasi masyarakat garis keras seperti RSS untuk mengukuhkan dominansi Hindu di India. Mendukung investigasi yang dilakukan oleh NIA, pemimpin RSS J. Nandakumar, pemimpin RSS, menyebut penyelidikan ini sebagai kampanye melawan konversi agama sebagai langkah yang tepat.
RSS yang merupakan sayap partai penguasa Bharatiya Janata Party (BJP) ini berideologi nasionalis Hindu. BJP, dan RSS di bawahnya, mengusung gagasan dan percaya bahwa India secara fundamental adalah negara Hindu.
Pada Pemilu 2014, RSS ikut andil dalam kemenangan Perdana Menteri Narendra Modi. Tokoh dari kelompok ini kemudian menduduki pos jabatan penting, salah satunya adalah Kementerian Dalam Negeri yang membawahi NIA, lembaga yang menyelidik kasus pernikahan ini.

Kisah cinta beda agama yang sederhana
Salah satu laki-laki muslim yang dituduh melakukan Islamisasi adalah Shefin Jahan. Pernikahan Shefin Jahan dengan perempuan Hindu bernama Hadiya disebut sebagai bagian dari gerakan ISIS. Jaksa mengklaim telah menemukan bukti bahwa Hadiya pindah agama karena dipaksa oleh Jahan.
Jahan menganggap laporan itu terlalu mengada-ada. Ia menolak tuduhan itu. Kepindahan agama Hadiya, menurut Jahan, terjadi sebelum ia menikahinya. Tak ada paksaan apapun.
Ia bercerita bahwa pertemuannya dengan Hadiya terjadi melalui situs biro jodoh untuk muslim ketika ia bekerja di pabrik Farmasi di Oman. Mereka kemudian menikah namun hanya sempat tinggal bersama selama dua hari.
"Kisah cinta kami yang sederhana terpaksa masuk ke pertarungan kepentingan agama dan politik," tutur Jahan.

Bau kepentingan politik tercium oleh lawan BJP. Beberapa penentang gagasan supremasi Hindu yang diusung BJP kemudian ikut membantu proses advokasi para laki-laki yang dituduh ISIS ini.
Pemimpin Partai Kongres Nasional India, Kapil Sibal, mengatakan bahwa bergulirnya isu "Love Jihad" ini adalah preseden buruk yang membuat hukum disusupi kepentingan politik. "Ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah India ketika pengadilan tinggi menanyakan perempuan tentang validitas pernikahannya dan isu pindah agama," ujar Sibal.
Intervensi hukum semacam ini juga dipandang sebagai upaya melanggengkan kepentingan politik semata. M.B. Rajesh, anggota Partai Komunis India, mengatakan bahwa NIA dan RSS menggulirkan isu pernikahan beda agama dengan motif kepentingan politik alih-alih sebagai program pemberantasan terorisme.
"NIA berusaha memaksakan isu demi kemenangan politik. Kami tetap yakin akan mampu mengalahkan mereka," ujar Rajesh.
Meningkatnya pengaruh gagasan supremasi Hindu oleh BJP dan RSS ini kemudian menekan keberadaan minoritas muslim di India. Muslim di India mencapai 172 juta penduduk atau sekitar 13 persen dari total 1,32 miliar populasi di sana.
Pergesekan antara Hindu dan Islam yang kini kembali digaungkan adalah lagu lama yang pernah memecah belah India 70 tahun silam. Akankah agama kembali dimanfaatkan untuk memecah belah bangsa demi kepentingan politik semata?
