Nongkrong di Kedai Terakhir 7-Eleven

7-Eleven, atau yang akrab disebut Sevel kini tinggal kenangan. Tempat nongkrong hits andalan anak muda ini harus dengan berat hati meninggalkan kita semua.
Tapi, tunggu dulu! Rupanya masih ada satu gerai Sevel yang tersisa. Ketika menyusuri kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, kumparan (kumparan.com) menemukan Sevel di sekitar Jalan Mangga Besar Raya.
Awalnya, saya agak sedikit ragu karena gerai itu dari jauh terlihat sepi. Rupanya, masih ada aktivitas di gerai Sevel tersebut. Mungkin saja, ini satu-satunya Sevel yang masih tersisa di Jakarta.
Padahal sejak 30 Juni lalu, PT Modern International Tbk menyebut anak perusahaannya itu sudah menutup semua gerai Sevel.

Dari luar, tertempel sebuah spanduk berwarna merah yang kira-kira bertuliskan "Objek Ini Belum Membayar Pajak". Sementara kursi-kursi dan meja tetap disediakan bagi mereka yang ingin nongkrong. Antara beli makanan atau minuman lalu nongkrong, atau hanya sekadar 'numpang nongkrong', ya.. terserah.
Masih cukup banyak anak muda--juga bapak-bapak yang nongkrong di sini. Ada yang cuma numpang merokok, ada juga yang memang sengaja membeli minuman dan kudapan sembari nongkrong dengan teman.
Saat memasuki Sevel, saya sempat berkeliling memperhatikan produk-produk yang dijual. Terakhir, saya mengunjungi Sevel di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Mereka hanya menjual berbagai merek air mineral dan beberapa jenis kudapan saja.

Sementara di sini, berbagai jenis minuman dalam kemasan, kudapan, mi instan, sabun mandi, shampoo, tisu, dan detergen dijual lengkap. Tentu saja, berbagai merek rokok pun tersedia.
Setelah sempat memilih minuman dingin dan beberapa kudapan, saya pun sempat memancing petugas kasir dan bertanya.
"Mbak, hot dog nya lagi enggak ada?"
"Udah enggak jualan lagi, mbak," kata penjaga kasir sembari tersenyum pahit.
"Oh ya udah. Enggak apa-apa mbak," jawabku.

Hotdog dan nasi katsu memang menjadi menu andalan Sevel. Kedua menu itu biasanya terpajang di meja kasir yang disimpan di sebuah wadah agar makanan tersebut tetap hangat. Sayangnya, wadah-wadah penyimpanan itu kini sudah kosong dari pajangan Hotdog, nasi katsu, dan teman-teman lainnya.
Begitu pula dengan minuman dingin ala Sevel, seperti Big Gulp dan Slurpee. Hanya mesin minumannya saja yang tersisa beserta gelas dan sedotan yang tidak akan pernah lagi dipakai.
Sevel di Mangga Besar ini terbilang masih cukup sering dikunjungi warga sekitar yang hanya sekadar membeli minuman dingin atau es krim-atau hanya mampir ke lantai 2 gedung untuk mencetak foto. Atau juga, ke bagian belakang Sevel untuk mengambil laundrian.

Suasana sepi pun terasa di sini. Tidak ada alunan musik yang biasanya terdengar di gerai-gerai Sevel. Tidak ada keramaian anak muda yang biasanya nongkrong di akhir pekan.
Yang tersisa hanya 3 petugas Sevel dan saya yang menikmati es krim, sembari melihat suasana sore kawasan Jakarta Barat. Akankah Sevel di kawasan ini menjadi Sevel terakhir yang buka?
Entahlah......

Tiba-tiba saya jadi teringat betapa ramainya Sevel dulu, ketika gerai itu baru pertama kali dibuka. Euforianya luar biasa: saya ingat sering membicarakan betapa enaknya hot dog Sevel dengan teman-teman SMA. Bahkan beberapa kali bersama teman nongkrong di Sevel walaupun cuma sebentar agar tidak ketinggalan zaman.
Ah..... Kenangan yang indah bersama Sevel.
Setidaknya, kejayaannya akan terus dikenang sebagai tempat nongkrong terbaik anak muda Jakarta.
