NTT: Kawasan Surga Garam yang Terlupakan

Produksi garam di dalam negeri masih cukup terbatas. Indonesia hanya mampu memproduksi rata-rata 3 juta ton garam per tahun. Jumlah tersebut memang mencukupi kebutuhan garam konsumsi, tetapi tidak untuk kebutuhan industri. Produksi masih menjadi masalah.
Produksi garam lokal masih mengandalkan Pulau Jawa. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendata, Indonesia memiliki lahan produksi garam 26.064 hektar. Dari jumlah tersebut 65 persen ada di Pulau Jawa yaitu Jawa Tengah sekitar 6.000 hektar, Jawa Barat hampir 6.000 hektar, dan Jawa Timur hampir 5.000.
Masalah muncul karena Pulau Jawa memiliki potensi curah hujan cukup tinggi. Bayangkan saja di tahun 2016 lalu, produksi garam lokal anjlok di posisi 144.009 ton atau hanya 4,5 persen dari target 3 juta ton. Penyebab utama anjloknya produksi garam adalah curah hujan tinggi yaitu rata-rata 200 hingga 400 mm per bulan. Ideal agar kegiatan produksi garam tidak terganggu adalah di bawah 150 mm per bulan
Pemerintah sudah seharusnya tidak lagi mengandalkan Pulau Jawa sebagai basis utama produksi garam lokal. Masih ada daerah lain yang punya potensi cukup besar. Salah satunya Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Potensi itu ada di daerah timur. Semakin timur semakin panas. Kita masih ada NTT," kata Kasubdit Air Laut, Non Energi, dan BMKT DJPRL KKP Zaki Mahasin kepada kumparan, Sabtu (21/1).
Selain berada di kawasan pesisir pantai yang kaya akan garam, intensitas curah hujan di NTT juga tidak sebesar Jawa. Sehingga kegiatan produksi garam di NTT bisa lebih maksimal.

"Namun NTT belum banyak digarap," imbuhnya.
Dengan potensi cukup besar, baru PT Garam (Persero) yang masuk dan mengelola garam di NTT. PT Garam tengah mengembangkan Desa Bipolo di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang menjadi sentra garam industri terbesar di NTT. Untuk tahap pertama, lahan yang dikembangkan seluas 385 hektar (ha) dengan nilai investasi mencapai Rp 4,5 miliar yang mampu memproduksi 40.000-50.000 ton garam per tahun.
Menurut rencana perusahaan, lahan di desa tersebut akan terus dikembangkan hingga mencapai 7.000-8.000 hektar yang mampu memproduksi antara 700.000-800.000 ton per tahun. Tidak hanya Desa Bipolo, masih ada dua kawasan lagi di NTT yang memiliki potensi produksi garam cukup besar seperti di Kabupaten Nagekeo dan Ende.
"PT Garam mulai 2016 di Desa Bipolo, Kabupaten Kupang sekitar 400 hektar produksi tahun ini," imbuhnya.
Dengan produksi garam yang cukup besar, KKP mulai tahun ini memberikan target khusus bagi NTT. Zaki menyatakan NTT akan menjadi tulang punggung produksi garam lokal. Tentunya target ini tidak langsung dibebankan ke NTT, tetapi bertahap hingga tahun 2019 mendatang.
"NTT seharusnya dapat memenuhi kebutuhan karena didorong industrialisasi garam. Mulai tahun ini hingga 2019 rencana kita ingin upayakan agar rencana itu bisa terealisasi," tutupnya.
Jadi bagaimana NTT, sudah siap menjadi penanggung jawab pergaraman nasional?
