NTT Wilayah Minim Curah Hujan, Tapi Rawan Banjir Bandang saat Siklon Tropis

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jembatan penghubung ke dermaga kapal ikan roboh karena diterjang gelombang kencang akibat badai Siklon tropis Seroja di Kota Kupang, NTT. Foto: Kornelis Kaha/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Jembatan penghubung ke dermaga kapal ikan roboh karena diterjang gelombang kencang akibat badai Siklon tropis Seroja di Kota Kupang, NTT. Foto: Kornelis Kaha/Antara Foto

Banjir bandang yang terjadi di NTT pada Minggu (4/4) lalu disebabkan oleh siklon tropis seroja. Akibat bencana tersebut, 174 orang meninggal dunia dan 48 lainnya masih belum ditemukan.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menyatakan NTT merupakan wilayah yang relatif memiliki curah hujan rendah sepanjang tahunnya. Namun, cuaca ekstrem yang disebabkan oleh siklon tropis bisa berujung pada terjadinya banjir bandang, yang akhirnya mampu memporak-porandakan berbagai daerah.

“NTT daerah yang sepanjang tahun relatif mendapatkan curah hujan yang minim. Tetapi ketika ada siklon tropis, maka hujan lebat terjadi, angin kencang melanda, dan dampaknya adalah kerusakan masif yang ditimbulkan akibat banjir bandang,” jelas Doni, Sabtu (10/4).

Seorang pengendara bermotor melintas di depan salah satu gedung yang ambruk akibat badai Siklon tropis Seroja di Kota Kupang, NTT. Foto: Kornelis Kaha/Antara Foto

Banjir bandang tersebut disebabkan oleh hujan lebat yang berpotensi menyebabkan adanya bendungan air di sungai ketika sungai mengalami penyumbatan. Jika volume air yang masif tak mampu dibendung akan berujung pada banjir bandang.

Doni menyebut, BNPB bersama berbagai pihak telah mendiskusikan perihal siklon tropis tersebut. Hal tersebut dilakukan supaya daerah-daerah lain bisa sedini mungkin mengambil langkah antisipasi dan mitigasi bencana, mengingat masih ada wilayah di Indonesia yang berpotensi mengalami siklon tropis.

Rapat kerja komisi IX DPR bersama Menkes Terawan dan Kepala Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo secara virtual. Foto: Dok: Komisi IX

“Kami tadi sempat membahas bersama seluruh BPBD seluruh Indonesia, gubernur provinsi, dan juga para kepala BMKG di tiap daerah. Topik bahasannya adalah konfirmasi perkembangan hidrogeologi yang berhubungan dengan siklon tropis, yang mungkin masih berpeluang [terjadi] di sejumlah wilayah Indonesia,” imbuh dia.

“Hal ini sangat penting dicermati agar seluruh daerah bisa melakukan antisipasi dan mitigasi dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di wilayah NTT,” pungkas Doni.

Sebelumnya, BMKG dalam siaran pers menjelaskan, sejak tanggal 2 April 2021 pihaknya telah mendeteksi adanya bibit siklon tropis 99S yang mulai terbentuk di sekitar Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.