Oman Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Amoral & Ilegal, Serukan Gencatan Senjata

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menghadiri pemakaman para korban setelah serangan yang dilaporkan terjadi di sebuah sekolah di Minab, Iran, Selasa (3/3/2026). Foto: Amirhossein Khorgooei/ISNA/WANA via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Warga menghadiri pemakaman para korban setelah serangan yang dilaporkan terjadi di sebuah sekolah di Minab, Iran, Selasa (3/3/2026). Foto: Amirhossein Khorgooei/ISNA/WANA via Reuters

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengeluarkan pernyataan keras menanggapi eskalasi militer yang kian memanas di Timur Tengah.

Dalam pernyataan terbarunya, Badr menyebut aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang amoral dan ilegal.

"Tindakan yang diambil oleh Israel dan AS terhadap Iran adalah amoral dan ilegal," tegas Badr dalam pernyataan di X, Minggu (9/3).

Polisi berjaga saat putaran kedua perundingan nuklir AS-Iran di kedutaan Oman, Roma, Italia, Sabtu (19/4/2025). Foto: Vincenzo Livieri/REUTERS

Namun, Badr tidak hanya mengecam satu pihak. Dia juga menyatakan penyesalan mendalam atas serangan balasan Iran yang justru berdampak pada negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

"Retaliasi oleh Iran terhadap tetangganya juga sangat disesalkan dan tidak dapat diterima," ujarnya.

Menlu Oman Badr Albusaidi Foto: X/@badralbusaidi

Badr menyerukan tiga poin utama sebagai jalan keluar, yaitu meminta semua pihak menahan diri, gencatan senjata, dan kembali ke meja perundingan.

"Saya menyerukan penahanan diri dari semua pihak, gencatan senjata, dan segera kembali ke jalur diplomasi,โ€ ujarnya.

Badr juga mengunggah foto pertemuan daring dengan para menlu dari Liga Arab yang membahas perkembangan terbaru krisis di Teluk.

Badr selama ini berperan sentral dalam perundingan antara AS dan Iran terkait nuklir.

Badr yang bekerja diam-diam, menerapkan shuttle diplomacy, yaitu meneruskan proposal dan perspektif dari satu pihak ke pihak lain, karena perundingan bersifat tidak langsung (tidak tatap muka langsung AS-Iran).

Ilustrasi Peta Iran dan Oman. Foto: Peter Hermes Furian/Shutterstock

Pada putaran ketiga perundingan pada 26 Februari di Jenewa, Badr menyebut ada kemajuan signifikan dan perundingan akan berlanjut pada putaran selanjutnya di Wina.

Namun, di tengah periode perundingan itu, AS-Israel memborbardir Iran pada 28 Februari pagi.

Sekarang Badr mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan.

Adapun Oman adalah satu-satunya negara kaya yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang tidak punya pangkalan militer AS permanen atau kehadiran besar tentara AS seperti negara-negara Teluk lainnya.