Operasi Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Masih Belum Berakhir

Proses evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu diperpanjang lagi selama tiga hari. Artinya, operasi SAR Sriwijaya Air akan berlangsung hingga Kamis (21/1).
Ini merupakan perpanjangan kedua, dan bisa diperpanjang lagi sambil mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
"Saya mengumumkan bahwa pelaksanaan operasi SAR kita perpanjang 3 hari lagi. Setelah mempertimbangkan berbagai macam hal, tadi kita berbincang rapat dengan Kemenhub, KNKT, DVI, dan pihak terkait, sehingga operasi SAR kita perpanjang 3 hari lagi," ujar Kepala Basarnas, Marsdya Bagus Puruhito, di Posko SAR JICT, Jakarta, Senin (18/1).
Perpanjangan ini bukan tanpa sebab. Salah satu yang menjadi alasannya adalah karena beberapa bagian penting pesawat, seperti memori cockpit voice recorder (CVR) SJ 182, hingga kini belum ditemukan.
Belum lagi ditambah cuaca yang kurang bersahabat pada Senin kemarin, membuat proses pencarian sempat terhambat.
Namun, dengan perpanjangan 3 hari, maka masih ada harapan untuk memaksimalkan pencarian korban serta bagian CVR yang belum ditemukan.
Hadapi Cuaca Buruk
Kemarin, tim SAR dibayang-bayangi cuaca kurang bersahabat di perairan Kepulauan Seribu sejak Senin pagi. Angin bertiup cukup kencang sehingga membahayakan kondisi penyelam.
"Hujan tadi [Minggu] malam, kemudian sekarang ini agak mendung gelap. Jadi bukan lagi cerah berawan. Walaupun dari prakiraan cuaca dari BMKG hari ini cerah berawan, tapi kelihatannya awannya agak gelap," kata Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI Rasman.
Para penyelam harus memperkecil area pencarian di bawah air. Namun, penyelaman sudah tidak bisa dilakukan pada Senin siang mengingat kecepatan angin yang tidak memungkinkan dilakukan pencarian.
"Begitu siang sudah tidak memungkinkan karena kecepatan angin sampai 26 knot, itu berbahaya untuk rekan-rekan kita apabila memaksakan untuk menyelam sehingga konsekuensinya adalah temuan," tutur Rasman.
Pencarian pun hanya dilakukan sampai pukul 16.00 WIB.
Temukan Kalung Salib dan Paspor Milik Kru Sriwijaya Air SJ 182
Tim penyelam komando katak (Kopaska) menemukan sebuah kalung liontin berbentuk salib milik kru pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Kalung salib itu terselip di dalam sebuah paspor atas nama Girslend Gloria Natalies.
Grislend merupakan pramugari NAM Air yang turut serta dalam penerbangan Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak. Maskapai NAM Air merupakan bagian dari Sriwijaya Air Group.
"Kalung dengan liontin salib itu, berada dalam tas bersama paspor dengan nama Grislend Gloria Natalies," ujar Penyelam Kopaska, Kapten Iwan Pratama, kepada Antara.
Sebelumnya, penyelam Kopaska juga menemukan dompet berwarna coklat yang di dalamnya terselip sejumlah identitas diantaranya kartu kesehatan PT Sriwijaya Air Group atas nama Yunni Dwi Saputri.
Selanjunya, ada buku pemeriksaan Ramp Check atas nama Oke Dhurrotul J, pramugari NAM Air yang jadi penumpang Sriwijaya Air SJ128.
Hasil Temuan 10 Hari Pencarian
Sepanjang 10 hari operasi SAR, tim gabungan telah mengumpulkan sebanyak 310 kantong jenazah, 60 kantong kecil bagian pesawat, dan 55 potongan besar pesawat.
Sementara CVR baru ditemukan bagian beacon, baterai, dan casing. Sedangkan memori CVR yang menyimpan percakapan di kokpit belum ditemukan.
Akibat cuaca buruk kemarin, tim SAR dengan KRI Rigel-933 hanya berhasil menyerahkan dua kantong yang masing-masing berisikan bagian tubuh (body part) dan serpihan pesawat ke Basarnas.
"Tim SAR Gabungan TNI AL pada hari ini menyerahkan temuan berupa dua kantong yang terdiri dari satu kantong body part (potongan tubuh jenazah) dan satu kantong serpihan pesawat," ujar Komandan KRI Rigel-933, Letkol Laut Jaenal Mutakin.
34 Orang Baru Berhasil Teridentifikasi
Tim Disaster Victim Identification (DVI) kembali mengidentifikasi lima korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Senin kemarin. Kelima korban yang diidentifikasi yakni, Didik Gunardi (49), Athar Rizki Riawan (8), Gita Lestari Dewi (36). Kemudian korban atas nama Fathima Ashalina Marhen (2), dan Rahamnia Ekananda (39).
“Untuk hari ini, Tim DVI berhasil mengidentifikasi lima korban,” ujar Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono.
Dengan penambahan lima korban, total sudah 34 penumpang dan kru Sriwijaya Air SJ 182 yang teridentifikasi.
Alasan Pencarian Sriwijaya Air Diperpanjang 3 Hari
Basarnas memutuskan memperpanjang operasi SAR selama 3 hari untuk terus menemukan korban yang belum berhasil diidentifikasi. Sebab, baru ada separuh dari 62 korban yang telah berhasil teridentifikasi.
"Sampai saat ini secara resmi dari DVI baru merilis 29 yang diidentifikasi. Tentunya tim SAR gabungan berusaha sekuat mungkin melaksanakan evakuasi korban. Semakin banyak jumlah kantong yang kita temukan akan semakin bermanfaat bagi DVI dalam membantu proses identifikasi," kata Kabasarnas Marsdya TNI Bagus Puruhito.
Di sisi lain, Bagus memahami masih ada harapan dari keluarga korban, khususnya bagi yang belum berhasil teridentifikasi.
"Kita memahami situasi keluarga korban yang sangat mengharapkan untuk ditemukan dalam bentuk apa pun," ujar Bagus.
"Artinya dalam tiga hari perpanjangan ini kalau nanti kita tentukan ada pengakhiran operasi SAR bukan berarti (pencarian) material kita stop. Tetap berlangsung. Kita juga tetap memantau atau memonitor situasi yang ada. Bila sewaktu-waktu ada yang ditemukan, kita melaksanakan kembali operasi SAR," lanjut dia.
Paus Fransiskus Ikut Mendoakan
Rangkaian bencana yang terjadi pada awal 2021 di Indonesia mengundang keprihatinan Paus Fransiskus, termasuk jatuhnya pesawat Swirijaya Air SJ 182 dan gempa bumi di Sulawesi Barat.
Pemimpin Vatikan itu menyampaikan doa lewat akun Twitter resminya pada Minggu (17/1). Dalam cuitannya, Paus turut mendoakan masyarakat berusaha memberikan bantuan kepada para korban.
“Mari kita berdoa bersama untuk saudara-saudara kita di Sulawesi, Indonesia, yang mengalami gempa bumi yang kuat. Semoga Tuhan menenangkan dan mendukung upaya mereka semua yang terlibat dalam pemberian bantuan. Mari kita juga doakan para korban kecelakaan pesawat di Indonesia,” tulis Paus Fransiskus dalam laman Twitternya.
