Oposisi Guinea Siapkan Transisi Politik Usai Kudeta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cellou Dalein Diallo. Foto: REUTERS/Christophe Van Der Perre
zoom-in-whitePerbesar
Cellou Dalein Diallo. Foto: REUTERS/Christophe Van Der Perre

Menyusul kudeta Guinea pada Minggu (5/9), pemimpin oposisi Cellou Dalein Diallo menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam transisi politik di negaranya.

Pada Selasa (7/9), Diallo mengungkapkan belum ada konsultasi mengenai transisi tersebut. Tetapi, dirinya siap untuk menyusun transisi politik bersama kelompok yang sejalan dengannya.

“Kami akan mengirimkan utusan, mengapa tidak, untuk berpartisipasi dalam proses membawa negara ini kembali ke tatanan konstitusional,” ujar Diallo, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Cellou Diallo adalah eks perdana menteri Guinea yang menjabat pada tahun 2004-2006, di bawah eks Presiden Lansana Conte. Ia merupakan ketua umum dari partai oposisi Union of Democratic Forces of Guinea (UFDG).

kumparan post embed

Diallo kalah dari Alpha Conde pada pilpres Guinea yang diselenggarakan pada Oktober 2020 lalu.

Diketahui, penggulingan kekuasaan Presiden Alpha Conde disebabkan oleh penolakan atas perubahan konstitusi negara dan naiknya Conde sebagai presiden untuk tiga periode.

Warga bersorak pada tentara saat mereka merayakan pemberontakan di Conakry, Guinea 5 September 2021. Foto: REUTERS/Souleyman

Pasukan elite Guinea mengepung istana kepresidenan pada Minggu (5/9) pagi. Sempat terjadi baku tembak di area luar istana.

Mereka berhasil memasuki istana dan menahan sejumlah pejabat pemerintahan, termasuk Alpha Conde sendiri. Conde saat ini dikabarkan dalam kondisi aman dan masih disembunyikan oleh pasukan elite.

Pemimpin kudeta Guinea, Mamady Doumbouya, menjanjikan pemerintahan transisi yang menekankan persatuan bangsa, serta “era baru untuk pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi”. Namun, Doumbouya belum menjelaskan rencananya secara rinci.

Pimpinan regional Guinea akan melangsungkan pertemuan pada Rabu (8/9) ini, untuk membahas masa depan dari negara Afrika barat tersebut.

kumparan post embed