Ortu Korban Sebut Daycare Little Aresha Lebih Kejam dari Kamp Guantanamo
ยทwaktu baca 4 menit

Sebanyak 53 anak berusia di bawah 2 tahun menjadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, mengatakan penyiksaan yang terjadi di sana sangat tak manusiawi.
Noorman membandingkan kondisi di daycare itu dengan yang terjadi di Kamp Guantanamo. Kamp Guantanamo merupakan penjara Amerika Serikat yang dikenal dengan penyiksaannya dan pelanggaran HAM.
"Luar biasa ternyata, enggak manusiawi, kalau Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," kata Noorman ditemui di Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta, Minggu (26/4).
Luka di Tubuh hingga Pneumonia
Noorman mengatakan anaknya mengalami pneumonia serta luka-luka di bibir dan punggung.
"Luka-luka di punggung, di bibir, kemudian ada di selangkangan, ada di tubuh," ungkapnya.
Dia sempat menanyakan luka yang dialami anaknya ke pihak daycare. Namun, menurutnya, pihak daycare selalu membantah.
"Kalau yang punggung sama bibir itu, saya sangat konsen, saya kadang-kadang mandiin, wong punggung itu enggak ada (luka) sama sekali. Kalau luka goresan dan lain-lain, pas di daycare itu langsung kaya difoto sama ya, kata sekolah, 'Ini, adik sudah luka dari rumah, lho.' Itu mulai janggal," jelas dia.
"Yang kedua juga sama, bibir, bibir sampai ngelopek-ngelopek itu masih ada kayak bekas merah-merah. Saya juga enggak mungkin ini di rumah nggak apa-apa," ujarnya.
Anak Noorman juga divonis sakit pneumonia dari usia 3 bulan.
"Kita nggak nyangka kondisi di sana (daycare yang jadi penyebabnya)," ucap Noorman.
Ada dua anak yang telah dititipkan Norman di daycare tersebut: yang pertama pada 2022-2025; sementara satu anak lagi 2024 sampai penggerebekan kemarin.
"Yang 2022 mulai 2 tahun lebih sampai 5 tahunan. Yang kedua yang cowok dari 3 bulan sampai 2,5 tahun," bebernya.
Menangis Setiap Mau Berangkat ke Daycare
Noorman bercerita, anaknya setiap pagi ketika dimandikan selalu menangis. Namun ini terjadi saat hari Senin-Jumat saja. Sementara saat akhir pekan atau libur tak ada tangisan.
"Kalau Sabtu sampai Minggu, kayak hari ini, ya natural, tidak ada nangis ketakutan," tutur Noorman.
Video Anak Diikat
Usai penggerebekan kemarin, Noorman sempat melihat foto yang ditunjukkan polisi. Foto itu membuktikan dugaan kekerasan di daycare tersebut.
"Pas anak-anak masih diikat dan tidak pakai baju hanya pakai popok. Ada yang masih berdiri di cagak pintu. Usianya udah besar terus apa namanya diikat. Terus yang dibedong," papar Noorman.
Pada foto yang bayi dibedong Noorman sempat berusaha memastikan apakah ada anaknya difoto. Namun saat itu kondisi dirinya sudah panik dan tidak bisa memastikannya.
"Saya juga akhirnya trauma, trauma di situ, kalau lihat itu (foto) pasti nangis," katanya.
Tertipu Branding
Noorman mengatakan daycare ini di-branding sedemikian rupa yang membuat banyak orang tertarik, termasuk dirinya. Daycare ini menawarkan jam antar-jemput yang fleksibel, penawaran juga disampaikan dengan tutur kata yang halus.
Biaya untuk menitipkan anak di sana sebesar Rp 1 juta setiap bulan.
"Dan jujur, branding-nya itu bagus. Body language-nya ibunya itu bagus. Ketika saat kita datang, itu langsung sendiri yang menyambut, beliau, owner-nya sendiri. Langsung, ketika anak sedih bisa ditenangkan," ungkap dia.
Selain itu di depan daycare juga dicantumkan berbagai gelar pengurusnya, ada yang S1 sampai S2.
"Itu yang jadi kita percaya. Depan pintu masuk kepengurusan yayasan itu lengkap dan semua gelarnya S2. Ada perawat, ada bidang ini, ada bidang itu. Menambah keyakinan kami," jelas dia.
Namun, akses orang tua ke daycare dibatasi. Misal mengantar dan menjemput hanya sampai depan. Aktivitas di dalam tidak bisa dilihat.
"Kami beranggapan dia itu menerapkan, menjaga Artinya, orang dari luar, mungkin itu ada anak bayi-bayi dan mereka juga bermasker. Yang bikin kami terlena itu branding," ungkap Noorman.
Dihukum Seberat-beratnya
Sejauh ini, polisi telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka. Mereka ialah 1 pemimpin yayasan, 1 kepala sekolah, dan 11 pengasuh. Noorman berharap para pelaku dihukum seberat-beratnya. Di sisi lain dia juga merasa bersalah terhadap anaknya.
"(Pelaku) dihukum yang seberat-beratnya. Karena saya kalau sudah ngelihat yang diikat, itu sudah miris. Menangis. Kayak rasa salah lah menitipkan anak di depan Allah tidak amanah," tuturnya.
