Ortu Siswa SDN 1 Kebondalem Ngaku Anaknya Pernah Dibully hingga Tak Bisa Kencing

Dugaan aksi perundungan (bullying) di SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, diduga tidak hanya dialami oleh almarhum Muhammad Hasbi Al Aqib (7). Salah satu orang tua siswa mengungkapkan bahwa anaknya juga pernah menjadi korban perundungan oleh siswa lain di sekolah tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Antika (33), warga Kaligelang yang merupakan wali murid dari siswa kelas 3 SDN 1 Kebondalem. Antika menceritakan, anaknya pernah mengalami perundungan hingga jatuh sakit, demam, dan mengalami gangguan sulit buang air kecil.
"Waktu anakku kelas 1. Sudah pernah sih terjadi seperti itu (perundungan), enggak bisa pipis, sakit, demam," ujar Antika saat ditemui di SDN 1 Kebondalem, Senin (5/10).
Merasa ada yang tidak beres, Antika kemudian mencari tahu penyebab kondisi anaknya. Ia lalu mendatangi wali kelas untuk meminta penjelasan terkait insiden tersebut.
"Jadi aku selidiki sendiri. Langsung diam-diam ke sini. Kalau respons sekolah, saya kebetulan wali kelasnya itu bisa diajak ngobrol ya, diskusi bersama gitu. Akhirnya ya sudah, terus dari pihak si anak yang nakal itu ya oke, minta maaf," jelasnya.
Namun, untuk kasus yang menimpa Aqib hingga berujung fatal dan merenggut nyawa, Antika menilai hal tersebut sudah sangat melampaui batas. Apalagi, terdapat dugaan sikap tertutup dari pihak kepala sekolah.
"Ya kalau ini kan sudah keterlaluan ya, sudah menyangkut nyawa anak," tegasnya.
Ia pun mendesak agar kepala sekolah serta terduga pelaku perundungan dikeluarkan dari sekolah. Menurutnya, tindakan menutupi kasus dan meminta siswa berbohong bukanlah contoh yang baik bagi lingkungan pendidikan.
"Jadi harus ditindaklanjuti dan kepala sekolah saya berharap keluar dan pelaku juga harus dikeluarkan. Ya karena kan dari kejadian itu sudah menutup-nutupi, sudah mengajarkan anak untuk berbohong ya. Jadi menurut saya enggak banget lah jadi kepala sekolah kayak gitu," kata Antika.
Antika mengaku sengaja datang dan bertahan di sekolah untuk memantau langsung kegiatan anaknya karena merasa khawatir akan keselamatan sang buah hati.
"Saya nungguin anak. Ya saya resah sebagai orang tua. Akhirnya saya sekalian mantau, barangkali ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Khawatir banget," pungkasnya.
