Pakar Kesehatan Ungkap Harapan Hidup WNI Lebih Lama, tapi Tak Lebih Sehat

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Iwan Ariawan, mengatakan masyarakat Indonesia kini memiliki angka harapan hidup yang semakin tinggi. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan meningkatnya jumlah tahun hidup dalam keadaan sehat.
“Kita ingin mencapai harapan hidup yang lebih tinggi. Tapi sebetulnya yang kita ingin capai bukan supaya penduduk Indonesia hidup lebih lama, tetapi hidup lebih lama dalam kondisi yang sehat, yang berkualitas,” kata Iwan dalam media briefing Evaluasi, Capaian, dan Langkah Strategi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/8).
Iwan menjelaskan, saat ini angka harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai sekitar 74,5 tahun. Namun, angka harapan hidup sehat (Healthy Adjusted Life Expectancy/HALI) baru berada di kisaran 65 tahun. Artinya, rata-rata masyarakat Indonesia masih menjalani sekitar sembilan tahun hidup dalam kondisi tidak sehat.
“Berarti ada gap. Ada sembilan tahun yang dilalui saat ini, rata-rata orang Indonesia itu dalam keadaan tidak sehat. Ini gap yang kita mau kurangi,” jelas Iwan.
Iwan menilai, peningkatan angka harapan hidup sehat tidak hanya dilakukan dengan menurunkan angka kematian, tetapi juga mencegah masyarakat jatuh sakit serta mengendalikan penyakit agar tidak menimbulkan kecacatan.
“Kalau sakit, bagaimana supaya sakitnya sembuh, jangan terjadi kecacatan. Maksudnya kalau sudah hipertensi ya diobati, supaya jangan jadi sakit jantung, jangan jadi stroke,” ungkap dia.
Karena itu, Iwan mengatakan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak hanya menjadi pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui penyakit, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Jadi cek kesehatan gratis ini bukan sekadar screening supaya kita tahu kita sakit apa, pemeriksaan lab gratis, bukan itu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk Indonesia,” pungkas Iwan.
