Pakar Psikologi: Pasangan AMIN Padu, Kompak, dan Punya Chemistry

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) di Jalan Sehat Bersama Santri Sarungan di Jember. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) di Jalan Sehat Bersama Santri Sarungan di Jember. Foto: Dok. Istimewa

Pakar psikologi dan personal branding Dewi Haroen menjelaskan, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) padu, kompak, dan memiliki chemistry.

Penilaian Dewi mengacu pada penampilan keduanya saat pengundian nomor urut di KPU, Selasa (14/11/2023).

“Tampak jelas chemistry antara keduanya sudah terbentuk. Jadi bahasa gerak tubuh yang terlihat bersifat spontan keluar secara natural, saling support/pengertian di antara mereka,” kata Dewi, Kamis (16/11/2023).

Chemistry ini, ujarnya, tidak bisa dipaksakan, namun terbentuk dari saling mengisi dan meleburkan ego satu sama lain. “Insya Allah dwitunggal,” ujarnya.

Kekompakan dan chemistry ini, ujar dia, menjadi syarat mutlak dalam memimpin Indonesia ke depan.

“Tantangan RI ke depan butuh sepasang presiden-wapres yang saling support karena situasi dan kondisi global yang tak menentu/berat dengan perang/ketegangan antar negara di luar,” ujar penulis buku yang juga pakar public relations ini.

Dengan begitu, kata dia, wapres tak semata sebagai ban serep, tapi harus ikut membantu presiden dengan mengelola permasalahan dalam dan luar negeri yang saling terkait.

Sementara itu, Dewi menilai duet Ganjar Pranowo-Mahfud MD ibarat dua matahari kembar yang saling bersaing.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ganjar Pranowo-Mahfud Md, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menunjukkan nomor urut pemilihan umum 2024. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

“Aura akademisi/experience jam terbang pemerintahan yang tinggi dari Mahfud mengusik ego Ganjar sebagai capres. Ini sulit dipungkiri, terlihat kasat mata dengan perbedaan warna baju,” ujarnya.

Sedangkan Prabowo-Gibran, kata Dewi, tak ubahnya dua sosok yang dipaksakan jadi satu semata agar bisa memenangkan Pilpres.

Keduanya yang terpisah usia dan pengalaman yang jauh bisa menjadi jarak sendiri. Apalagi anak muda, lanjutnya, mana ada bawahan atau ajudan yang bisa menyatu dengan tuannya.

“Gibran dengan pengalaman sebagai Wali Kota Solo bisa apa bantu Prabowo? Prabowo perlu Gibran sekadar untuk bisa menang Pilpres karena perlu logistik, bantuan aparatur/TNI untuk menang,” ujarnya.

(AI)