Pakistan Anugerahi Gelar Doktor Kehormatan Bidang Bedah Jantung ke Presiden Iran

Presiden Iran Dr. Masoud Pezeshkian melakukan kunjungan kenegaraan ke Islamabad, Pakistan, Selasa (23/6). Kunjungan Pezeshkian ini dilakukan beberapa hari setelah perundingan perdamaian antara AS dan Iran yang dimediatori Pakistan.
Presiden Pezeshkian yang didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi disambut dengan upacara megah oleh Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Presiden Asif Ali Zardari.
Selain membahas implementasi peta jalan perdamaian dengan AS, pertemuan ini juga membahas penguatan hubungan bilateral kedua negara, mulai dari masalah keamanan perbatasan, energi, hingga kerja sama perdagangan.
Selama pertemuan di Istana PM Pakistan, Pezeshkian juga dianugerahi gelar doktor kehormatan di bidang bedah jantung oleh Pakistan College of Surgical Specialization.
"Dalam kesempatan tersebut, jasa-jasa ilmiah serta kiprah profesional Dr. Pezeshkian di bidang kedokteran dan bedah jantung mendapat apresiasi,โ ungkap pemerintah Iran dalam pernyataan tertulis, Rabu (24/6).
Sekilas Karier Dokter dan Politik Presiden Iran
Masoud Pezeshkian โ saat ini 71 tahun โ adalah dokter spesialis bedah jantung yang berkarier di Tabriz sebelum masuk politik. Ia pernah menjadi direktur rumah sakit jantung dan menjabat rektor Tabriz University of Medical Sciences.
Saat perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, ia juga terlibat dalam pelayanan medis bagi korban perang.
Berkat reputasinya di bidang kedokteran, ia kemudian diangkat menjadi Wakil Menteri Kesehatan oleh Presiden Iran saat itu, Mohammad Khatami, sekitar tahun 2000.
Hal ini juga menandai masuknya dia ke dunia politik. Setahun kemudian, dia diangkat jadi Menteri Kesehatan.
Setelah menjabat Menkes, dia terpilih menjadi anggota parlemen Iran pada 2008 dan bertahan selama 16 tahun. Di parlemen, di banyak bicara soal kesehatan, pemerintahan yang lebih terbuka, dan kritik terhadap tindakan represif pemerintah.
Dia terpilih sebagai Presiden Iran pada 6 Juli 2024 dengan meraup 53,7 persen suara. Pemilu Iran kala itu dipercepat karena presiden sebelumnya, Ebrahim Raisi, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.
