Paloh Singgung Pemimpin Lupa Diri: Negeri Tengah Menjerit, Butuh Keteladanan

10 Maret 2023 20:42 WIB
·
waktu baca 2 menit
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memberikan pengarahan saat Silaturahmi Nasional (Silatnas) Badan Advokasi Hukum (Bahu) Partai Nasdem di Nasdem Tower, Jakarta, Jumat (10/3/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memberikan pengarahan saat Silaturahmi Nasional (Silatnas) Badan Advokasi Hukum (Bahu) Partai Nasdem di Nasdem Tower, Jakarta, Jumat (10/3/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Ketum NasDem Surya Paloh menyinggung soal krisis keteladanan dalam kepemimpinan bangsa Indonesia di acara Silaturahmi Nasional Badan Advokasi Hukum (BAHU) NasDem.
ADVERTISEMENT
Paloh mengatakan, Indonesia saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang dapat memberikan teladan bagi masyarakat. Menurutnya, pemimpin bangsa Indonesia saat ini telah lupa diri.
"Keteladanan, bangsa ini haus akan keteladanan, negeri ini haus, butuh, menjerit, 'tolonglah para pemimpin, para elite bangsa ini, tolong beri keteladanan. Kami lagi sakit, bangsa sedang menjerit'," kata Paloh di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Jumat (10/3).
Paloh menyebut, masyarakat sedang terjebak dalam pragmatisme kehidupan. Tidak ada perencanaan jangka panjang dalam menjalani kehidupan.
"Karena masyarakat kita sekarang hari ini, satu dan lain hal terjebak dalam pragmatis yang tinggi, enggak ada urusan berpikir strategis jangka panjang, negara 100 tahun ke depan, karena semua terlibat 'aku berpikir untuk hari ini'. Kalau ada yang kasih uang Rp 100 ribu itu lebih bagus daripada kepentingan 100 atau 200 tahun yang akan datang," ujarnya.
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memberikan pengarahan saat Silaturahmi Nasional (Silatnas) Badan Advokasi Hukum (Bahu) Partai Nasdem di Nasdem Tower, Jakarta, Jumat (10/3/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Menurut Paloh, salah satu penyebab minimnya keteladanan bagi masyarakat karena indeks korupsi yang tinggi. Meski sudah ada KPK tingkat korupsi di Indonesia masih cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
"Mau norma apa ketika nilai-nilai kepantasan dan kepatutan tidak kita jaga bersama. Maka ketika kita memasuki era reformasi yang mengecam nepotisme, kolusi. Nah, sodara rasakan saat ini semakin sedikit atau semakin banyak? semakin kita lahirkan gerakan antikorupsi, bahkan melahirkan lembaga extraordinary KPK, indeks korupsi kita bukan semakin berkurang, bukan hanya indeksnya, tapi kualitasnya semakin berkurang," ungkapnya.
Paloh menyebut, persoalan bangsa tidak hanya dapat diselesaikan dengan aspek yuridis formal. Salah satu kunci dalam menuntaskan masalah yakni lewat keteladanan.
"Kuantitas, kualitas, ini yang harus kita sadari. Jadi tidak semua penyelesaian aspek yuridis formal itu menyelesaikan masalah. Bagi kita untuk meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak kalah pentingnya adalah suri keteladanan," tandas Paloh.
ADVERTISEMENT