Paloh Ungkap RI Masih Tetap di BoP: Tegaskan Perjuangan Rakyat Palestina

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketum NasDem Surya Paloh mendatangi Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3/2026). Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketum NasDem Surya Paloh mendatangi Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3/2026). Foto: Jonathan Devin/kumparan

Ketum NasDem, Surya Paloh, mengungkapkan Indonesia masih tetap berada dalam Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski begitu, posisi ini akan dievaluasi nantinya.

Hal itu diungkapnya setelah menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3).

"Sampai hari ini barangkali masih dalam posisi seperti itu (Indonesia di dalam BoP), kecuali ada perkembangan bersama beberapa negara lain nanti, mengevaluasi ulang kembali arti kebiasaan Indonesia di BoP bersama beberapa negara lainnya," kata Paloh.

Presiden Prabowo Subianto mengundang presiden dan wakil presiden terdahulu serta sejumlah mantan Menlu di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Foto: Dok. Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

Dia mengatakan, dalam pertemuan tersebut memang dipaparkan beberapa latar belakang Indonesia bergabung BoP. Ada beberapa pemikiran yang dinilai cukup strategis untuk dijadikan alasan.

Menurut Paloh, sikap politik luar negeri Indonesia juga tetap ditegaskan. Termasuk fokus utama dalam membela kemerdekaan Palestina.

"Bahwasanya kita menegaskan kembali bagaimana mempertahankan politik bebas dan aktif, rasa simpati dan empati yang besar terhadap bagaimana perjuangan rakyat Palestina tadi ditegaskan kembali," ungkapnya.

Presiden AS Donald Trump, diapit oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio (kanan), bergabung dengan para pemimpin untuk foto bersama selama pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" di Institut Perdamaian AS di Washington DC. Foto: Saul Loeb/AFP

Paloh menilai, Prabowo tetap memiliki pemikiran yang sesuai jalur. Namun memang, perlu ada sedikit manuver untuk menyesuaikan gejolak geopolitik yang ada.

"Artinya bagaimana penegasan hubungan diplomasi itu terus tetap terjaga dengan para pihak," ungkapnya.

Prabowo memang menggelar pertemuan dengan mengundang para mantan presiden dan wakil presiden ke Istana Negara, Jakarta. Selain mereka, Prabowo mengundang ketua umum partai politik hingga mantan menteri luar negeri.