PAN Masuk Koalisi Jokowi, PKB Sebut Terlalu Dini Bahas Jatah Menteri

26 Agustus 2021 12:12 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo menerima kedatangan Ketua MPR Zulkifli Hasan di Istana Bogor. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo menerima kedatangan Ketua MPR Zulkifli Hasan di Istana Bogor. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Presiden Jokowi menggelar pertemuan dengan sejumlah petinggi parpol di Istana Negara kemarin sore. Hadir para ketum dan sekjen parpol dalam pertemuan tersebut.
ADVERTISEMENT
Uniknya, ada tambahan koalisi baru yaitu Partai Amanat Nasional (PAN). Apakah ini pertanda PAN akan mendapatkan jatah menteri? Waketum PKB Jazilul Fawaid menyebut terlalu dini.
"Ini terlalu dini, belum tentu. Kita tunggu saja apa yang akan diambil atau tindak lanjut dari pertemuan sore kemarin. Pertemuan itu menurut saya lebih kepada pertemuan yang sesungguhnya lama tidak dilakukan parpol koalisi, giliran bertemu kita punya teman baru (PAN),” kata Gus Jazil sapaan akrabnya, Kamis (26/8)
Gus Jazil menambahkan, di tengah kondisi pandemi seperti ini rakyat mengalami banyak kesulitan, tidak cukup pantas untuk menilai pertemuan partai-partai politik kemudian langsung dipersepsikanrafy untuk membicarakan bagi-bagi kursi.
Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Pimpinan Parpol di Istana, Rabu (25/8). Foto: Dok. Istimewa
“Menurut saya bukan itu yang menjadi kehendak rakyat saat ini. Tapi itu hak prerogatifnya Presiden. Bagi PKB, tanpa harus bertemu kalau Presiden mau mengganti atau menambah (menteri) silakan, itu hak prerogatifnya Presiden. Itulah yang selama ini PKB menghormati mana yang menjadi hak prerogatifnya Presiden,” Wakil Ketua MPR ini.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, Gus Jazil menegaskan, pertemuan tersebut sesungguhnya bukan untuk mempengaruhi hak prerogatif presiden.
"Jadi kalau Presiden mau mengambil, mengganti kursi menteri, hari ini, silakan dengan hormat. Dan yang menjadi tolok ukurnya kemampuan kinerja kabinet yang di-reshuffle untuk menghadapi kondisi yang ada, bukan pada konteks bagi-bagi kursi dan menyebabkan kegemukan koalisi. Kalau itu yang terjadi, justru nanti akan menjadi masalah di detik-detik akhir,” tandas Gus Jazil.
Sebelumnya, dalam pertemuan di Istana itu hadir Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto, Ketua Umum NasDem Surya Paloh dan Sekjen Jhony G Plate, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan Sekjen Ahmad Muzani, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Sekjen Lodewijk Paulus, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen Hasanuddin Wahid, Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa dan Sekjen Arwani Thomafi.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, parpol non parlemen yang berada di koalisi tidak diundang dalam pertemuan tersebut.