Pangeran Hisahito Jalani Upacara Kedewasaan, Akan Jadi Kaisar Terakhir Jepang?
ยทwaktu baca 4 menit

Pangeran Hisahito kini resmi menjadi orang dewasa. Dia bahkan menjadi anggota kekaisaran Jepang pertama yang mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.
Dikutip dari AP, Selasa (9/9) upacara kedewasaan yang rumit untuk mengakui Hisahito sebagai orang dewasa digelar pada Sabtu (6/9) lalu. Upacara kedewasaan pertama dalam 40 tahun terakhir ini seakan jadi pengingat masa depan suram monarki tertua di dunia ini.
Upacara kedewasaan terakhir digelar pada 1985. Adalah ayah Hisahito, Pangeran Mahkota Akishino, anggota kekaisaran terakhir yang menggelar upacara kedewasaan.
Hanya laki-laki yang boleh menjadi penerus kekaisaran dalam kebijakan penerus. Di saat bersamaan, jumlah anggota kekaisaran khususnya laki-laki semakin berkurang.
Hisahito berada di urutan kedua pewaris Chrysanthemum Throne dan akan menjadi kaisar suatu hari nanti. Namun setelah Hisahito, tidak ada lagi yang berada di garis pewaris. Ini menjadi dilema bagi kekaisaran Jepang, salah satunya apakah mereka harus membatalkan keputusan abad ke-19 yang menghapuskan aturan penerus perempuan.
Hisahito yang lahir pada 6 September 2006 merupakan anak laki-laki satu-satunya Pangeran Mahkota Akishino dan Putri Mahkota Kiko. Hisahito memiliki dua kakak perempuan, yaitu Putri Kako dan Mako yang menikah dengan warga sipil, sehingga status kekaisaran harus ditinggalkan.
Hisahito seharusnya menggelar upacara kedewasaan begitu menginjak usia 18 tahun. Namun, upacara kedewasaan baru digelar tahun ini karena ingin berkonsentrasi penuh pada ujian masuk perguruan tinggi.
Saat ini, Hisahito menempuh pendidikan di Tsukuba University dekat Tokyo. Dia mempelajari biologi dan suka bermain badminton. Dia secara khusus sangat tertarik dengan capung dan ikut menulis naskah akademik tentang survei serangga di lahan perkebunan di kediamannya di Akasaka, Tokyo.
Masa Depan Kekaisaran Jepang: Harus Penerus Laki-laki atau Kembali Memperbolehkan Penerus Perempuan?
Kekurangan penerus laki-laki menjadi masalah serius bagi monarki Jepang. Hisahito bisa saja jadi kaisar terakhir, dan ini mencerminkan populasi Jepang yang menua dan menyusut dengan cepat.
Tradisi penerus laki-laki di kekaisaran Jepang telah berjalan selama 1.500 tahun. Namun, di masa lalu penerus perempuan diizinkan. Berdasarkan catatan, ada 8 kaisar perempuan termasuk Go-Sakuramachi yang memerintah dari tahun 1762 hingga 1770. Meski demikian, tak satu pun dari mereka yang melahirkan penerus selama masa kekuasaannya.
Secara hukum, penerus dibatasi hanya untuk laki-laki diatur dalam undang-undang 1889 di bawah Konstitusi sebelum perang. Dalam UU Keluarga Kekaisaran 1947 pasca perang juga hanya mengizinkan penerus laki-laki.
Meski demikian, para ahli mengatakan sistem penerus hanya laki-laki cacat struktural dan berhasil di masa lalu karena peran selir yang hingga 100 tahun lalu melahirkan anak-anak kekaisaran.
Untuk mengatasi masalah penerus, pemerintah pernah menyusun proposal untuk mengizinkan kaisar perempuan pada 2005 lalu. Namun, kelahiran Hisahito dengan cepat mengubah keadaan dan proposal itu ditentang oleh kaum nasionalis.
Sementara pada Januari 2022, panel ahli yang sebagian besar konservatif merekomendasikan agar pemerintah mempertahankan garis penerus laki-laki, mengizinkan anggota perempuan kekaisaran mempertahankan status mereka dan melanjutkan tugas resmi mereka. Kaum konservatif juga mengusulkan mengadopsi keturunan laki-laki dari keluarga jauh kekaisaran yang kini telah bubar untuk melanjutkan garis keturunan laki-laki.
Surat kabar Jepang, Yomiuri Shinbun, juga mengeluarkan proposal sendiri pada Mei lalu yang menyerukan segera merevisi UU Keluarga Kekaisaran untuk memberikan status kekaisaran pada suami dan anak para putri, dan mengizinkan anggota perempuan mewarisi takhta. Proposal Yomiuri Shinbun mendesak parlemen untuk secara bertanggung jawab mencapai kesimpulan mengenai krisis yang melanda negara dan simbol persatuan rakyat.
"Bagi saya tidak ada bedanya apakah perempuan atau laki-laki yang menjadi kaisar," kata seorang bartender di Tokyo, Yuta Hinago, dikutip dari The Japan Times.
Menurut Hinago, seharusnya ada fleksibilitas dalam aturan penerus.
"Gender tidak penting," kata warga lainnya, Minori Ichinose, yang mendukung gagasan kaisar perempuan.
Meski ada dukungan publik untuk mengubah aturan penerus, sejarawan kerajaan dari Nagoya University Hideya Kawanishi mengatakan masyarakat saat ini fokus pada isu-isu lain seperti inflasi yang meningkat.
"Jika orang-orang yang umumnya mendukung (kaisar perempuan) menjadi sedikit lebih lantang, maka politisi bisa lebih serius," kata Kawanishi.
"Tapi begitu upacara berakhir, masyarakat termasuk media akan kembali tenang dan melanjutkan hidup," katanya.
